Nasehat Ustadz Akrim Mariyat tentang Bahasa dan Profil Pendidik

Nasehat Ustadz Akrim Mariyat tentang Bahasa dan Profil Pendidik

Alhamdulillah, pada hari Kamis kemarin, 23 April 2020, dosen-dosen Prodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) UNIDA Gontor diberi kesempatan untuk silaturahim dengan KH. Drs. M. Akrim Mariyat, Dipl. Ad.Ed. Kami mendatangi kantor beliau di Yayasan Perguruan Tinggi Darussalam (YPTD) di Gedung Utama lantai 1.

Mengenakan jas abu-abu, beliau nampak gagah. Beliau menyambut kami dengan senyumannya yang kharismatik. Kami duduk di kursi tepat di depan meja beliau. Ustadz Wahyudi, selaku Ka. Prodi PBA membuka acara. Setelah itu, Ustadz Akrim langsung memberi 1 poin nasehat penting, yaitu tentang bahasa. Berikut poin-poinnya:

  1. Salah satu poin piagam Badan Wakaf adalah menjadi pusat kajian Bahasa al-Qur’an/Arab. Artinya kita mengajarkan bahasa Arab yang fusha bukan ‘ammiya. Itu yang kita pertahankan.
  2. Menguasai sutu bahasa sama dengan menguasai satu negara. Ketika kita belajar bahasa, tidak sekedar bahasanya, tapi juga budaya, jika kita sudah menguasai bahasa serta budayanya, maka kita akan menguasai hati orangnya. (Bahasa-budaya-hati).
  3. Jika kita mau menghayati, setiap bahasa memiliki kesulitannya masing-masing. Tapi Allah sudah meletakkan dalam setiap sesuatu keindahannya. Bisa jadi menurut kita tidak indah, tapi bagi orang lain itu indah. Karena masing-masing memiliki rasa yang berbeda. Semuanya ada unsur keindahan dan kemanfaatannya. Maka dari itu kita tidak boleh iri. KH. Ahmad Sahal sering menyampaikan: (disampaikan dalam bahasa Jawa: Tentang penjual dawet yg memikul beban berat dengan nyanyian, lebih baik dari pada orang naik mobil mercy tapi berlinang air mata) luwih-luwih, rangeng-rangeng.
  4. Bahasa adalah skill tanpa berpikir. Belajar bahasa itu dengan hafalan bukan kira-kira. Bahasa adalah hafalan, tak perlu kecerdasan. Sebodoh-bodohnya orang di Inggris tetap bisa bahasa Inggris. “Jangan takut salah yang penting ngomong”, pesan Pak Zar. Lihatlah: mengapa bahasa Inggris lebih mudah dipelajari daripada bahasa Belanda dan Percancis. Padahal, Belanda menajajah 350 tahun, itu karena bahasa Belanda Ki-Krik (terlalu dipersulit)
  5. A Pure Language is A poor Language. Maka bahasa yang miskin bisa diperkaya dengan bahasa yang lain.
  6. Setiap profesi memiliki bahasa sendiri-sendiri. Ada program bahasa untuk Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Tapi kita fokus untuk religi dan sains.
  7. Belajar bahasa yang penting MAU. Beliau (Ust. Akrim) menceritakan beliau dulu belajar bahasa dengan menulis di papan tulis kecil. Kemudian dengan lembaran kertas, dan akhirnya dengan diary, tiap hari mencatat kosa kata baru dari berbagai macam sumber. Baik Radio, koran, hingga bahasa Inggris yang ada dalam bungkus obat.

Setelah panjang lebar berbicara tentang bahasa, Ustadz Muhammad Wahyudi mengajukan pertanyaan tentang bagaimana seharusnya menjadi profil pendidik yang baik. Akhirnya beliau menjawab:

  1. Jangan marah ketika mengajar. Ada banyak hal yang menyebabkan marah. Tapi jangan marah. Pak Zar jika marah, buka marah karena dendam, tapi murni mendidik.
  2. Jangan mencaci, sehingga dibenci. Siswa itu, kalo dihina oleh gurunya akan membekas di hati. Kalo memang siswa tersebut kemampuannya terbatas, ya jangan dipaksakan, apalagi sampai direndahkan.
  3. Pak Zar selalu berpesan: “Sebaik-baik belajar adalah dengan mengajar”. Pak Zar tak pernah berhenti mengajar. Dulu, kami (Ustadz Akrim dan teman-teman beliau) ber-5 jadi kelinci percobaan. Setiap hari kami harus mengumpulkan Insya Yaumi. Dikoreksi dengan betul oleh beliau, dan itu setiap hari.
  4. Guru harus bisa memberi Qudwah (contoh), kontrol, evaluasi, dan inovasi. Guru itu jangan terlalu dekat dengan siswa. Tapi jangan juga terlalu jauh. Harus berani mengingatkan. Jadi guru jangan takut dibenci oleh murid. Mengingatkan harus terus-menerus.
  5. Mengajar pada dasarnya adalah memberi kabar gembira, بشروا ولا تنذروا
  6. Seorang guru harus komunikatif tidak menejenuhkan.
  7. Dalam mengoreksi jangan hanya kira-kira, harus telit. Kalau tidak mau ngoreksi bukan guru namanya.

Demikian nasehat beliau untuk dosen-dosen PBA yang ketika itu dihadiri oleh 6 orang dosen. Sebagian dosen lainnya berhalangan hadir karena ada tugas menguji skripsi dan lain-lain. Semoga bermanfaat untuk kita semua. Semoga Allah selalu memberkahi Ustadz Akrim beserta keluarga. Aamiin. Waallahu a’lam.

Penulis: Muhammad Wahyudi, M.Pd.

Editor: Ahmad Kali Akbar, M.Pd.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *