Bekal Untuk Mempersiapkan Calon Ibu Masa Depan Oleh KH Husnan Bey Fananie

Bekal Untuk Mempersiapkan Calon Ibu Masa Depan Oleh KH Husnan Bey Fananie

UNIDA Gontor – DEMA Gontor Putri 1 mengadakan kajian rutin setiap seminggu sekali. Pada hari minggu, tanggal 12 September 2020 kajian bertemakan الأم المدرسة الأولى للجيل الإسلامي disampaikan oleh KH Husnan Bey Fananie.

Semenjak tahun 2017-2018 saya menjadi anggota badan wakaf, ini adalah yang pertama kalinya saya berbicara atau mengisi seminar di depan ustadzah, para pendidik, calon ibu masa depan. Dan ini merupakan pengalaman yang sangat berharga. Saya akan merindukan Gontor Putri ini. Begitulah beliau menyampaikan sebagai kalimat pembuka di acara kajian tersebut.

Disini kita akan membahas terkait pondok kita. Terkadang kita lupa apa perbedaan pondok modern dengan pondok lain. Saya bukan mau mengajari kepondokmodernan, tapi disini saya hanya mau mengulang tentang kepondokmodernan. Ketika pertama kali kita menginjakan kaki kita ke Gontor, pasti kita disapa oleh pertanyaan:

Ke Gontor apa yang kau cari?

Sebenarnya ada pertanyaan lagi, mengapa kalian ke Gontor dan apa sih Gontor itu?

Kita harus bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu karena itu adalah prinsip-prinsip dasar. Gontor itu didirikan bukan semata-mata lembaga pendidikan Islam saja tetapi disesuaikan dengan kondisi pada saat itu.

Beliau menceritakan, bahwa pada tahun 1926, K.H Ahmad Sahal mengambil alih Gontor lama dan mengembangkan tarbiatul athfal bersama dengan saudaranya yaitu Zainudin Fananie dan Imam Zarkasyi yang pulang dari rantauan untuk membangun karya-karya baru dengan inovasi-inovasi baru. Yaitu membangun suatu lembaga yang membentuk karakter umat, ayo kita bangun Gontor yang baru dengan semangat yang baru, visi misi dan tujuan yang baru.

Di umur trimurti yang masih tergolong muda pada saat itu tapi pikiran mereka sudah jauh ke depan, maju memandang dunia untuk membangun lembaga yang bisa membentuk karekter-karekter umat, kader-kader bangsa dan beliau selalu berfikir tentang anak-anak bangsa. Dan kita  adalah manusia-manusia on the touch yang langsung ikut melaksanakan, menyentuh, dan mendidik anak-anak itu. Sampai trimurti berikrar pada saat itu.

Bondo bahu pikir lek perlu sak nyawane pisan. Tempat ini bukan hanya sebuah pesantren, tetapi lembaga yang membangun intelektual anak-anak masa depan (kaum milenial). Anak-anak dan cucu-cucu trimurti jika menyadari mereka sudah diwakafkan untuk melanjutkan perjuangan dan kepentingan umat. Jadi, pondok modern itu apa?

Pondok modern Gontor itu seperti blender, dimasukkan sirsak dan manga, ketika diminum rasanya nano-nano. Sama halnya dengan Gontor yang merupakan lembaga pendidikan, lembaga pembentukan karakter, lembaga pengetahuan, dan lembaga integral yang menyatukan semua faktor-faktor pendidikan. Dari kecil kita dididik langsung oleh ibu kita, kita diberi asi dengan menyebut bismillah, kalimatillah dan ketika kita lahir diadzankan.

Tidak ada satu gerakan apapun yang tidak memakai doa, kalian akan menjadi ibu jangan sampai ada gerakan yang tidak memakai Asma’ Allah

Ada 3 tempat pendidikan yang dipadukan oleh Gontor:

  1. البيت مدرسة الأولى
  2. المدرسة الثانية هي الفصل في المدرسة
  3. مجتمع البيئة الإجتماعية

Ketiga ini dijadikan satu/diintegralkan oleh Trimurti untuk membangun karakter. Motto Gontor itu mencerminkan 3 tempat pendidikan ini:

  1. Berbudi tinggi dan berbadan sehat, diajarkan dirumah. Kita diajarkan berakhlakul karimah dan menjaga kebersihan jasmani dan rohani.
  2. Berpengetahuan yang luas, diajarkan disekolah. Masuk kelas bertemu ustadzah dan mendapatkan ilmu/wawasan yang baru, dan dimasukan intelektual.
  3. Kalian bebas menikmati dunia (الآية الكونية), ini diberikan Allah agar kita sadar Allah sedang mengajari kita madrasah attalis.

Anak-anakku, kami pernah santri juga, diletakkan di asrama mengurus barang sendiri. Rayon itu seperti rumah sendiri dan mudabbir seperti orang tua, diajarkan kebersihan, dikasih izin untuk tidak masuk kelas. Ini gila jika di pikiran orang luar, anaknya disekolahkan malah disuruh bersih-bersih, orang luar tidak faham bahwasanya ini adalah bagian dari pendidikan.

Kalian akan menjadi pendidik paling tidak menjadi pendidik dari anak yang keluar dari rahimmu

Dari gontor kita diajarkan nilai keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhwah islamiah, dan kebebasan. Beliau menceritakan sedikit sejarah tentang Azerbaijan dikarenakan beliau pernah menjadi dubes Indonesia untuk Azerbaijan, yang mana sebuah Negara yang memiliki sejarah yang paling panjang, dan ada seorang Nabi yang dilahirkan disini yaitu Nabi Nuh AS. Tapi Negara ini tidak memiliki kekuatan ,jati diri, pegangan,  pedoman, sosial, ekonomi, budaya dan agama dikarenakan dijajah selama 170 tahun oleh negara yang tidak memiliki agama/ateis yaitu Uni Soviet (Rusia). Agama Islam dijajah disana bahkan dicabut dan dilarang.

Di Gontor kita diibaratkan seperti tanah liat, dari kelas satu kita dibentuk hati kita, karakter kita. Coba kita bayangkan jika kita diluar, memiliki pergaulan yang bebas, tidak terkontrol hingga tidak mengerti tentang agama. Dan bukan berarti anak luar tidak baik, setidaknya kita tau bagaimana keagamaan. Alhamdulillah kita jadi ustadzah selain diberikan ilmu tapi disini juga kita bisa mengamalkannya.

Tugas kita dimuka bumi ini ada 3,

  1. العبادة
    Ibadah wajib dan sunah
  1. الخليفة في الأرض
    Kita harus bisa memanage diri kita, keluarga kita, anak kita dan bangsa kita
  1. تعمير البناء
    Kita harus memakmurkan bumi karena kita sudah dititipkan hidup di muka bumi

Dan untuk menjalankan tugas itu kita diberi alat oleh Allah, yang kita kenal dengan 3 N.

  1. Niat yang soleh
  2. Nalar/intelektual
  3. Nurani/cahaya kebaikan yang paling dalam

Jika sudah menjalankan itu semua maka kita diberikan bonus, yang kita kenal dengan 3 C.

  1. Citra/derajat kita akan diangkat oleh Allah
  2. Cita-cita dan semua yang kita inginkan akan dikabulkan oleh Allah
  3. Cintanya Allah akan kita dapatkan dan urusan dunia akhirat akan dimudahkan oleh-Nya

Kita tahu bahwa menjadi seorang ibu tidaklah mudah. Bekal yang dipersiapkan olehnya jauh sebelum ia melahirkan anaknya. Termasuk satu alasan yang logis mengapa seorang wanita itu harus menuntut ilmu setinggi-tingginya, yakni untuk menyiapkan generasi ummat masa depan yang kelak akan ia lahirkan lewat rahimnya. Selain menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah, maka melalui menuntut ilmu inilah sebenarnya seorang muslimah sedang mempersiapkan bekalnya sebelum menjadi ibu. Selamat untuk mencetak generasi umat yang Islami, wahai calon ibu solihah. Wallahu a’lam bissawab.


By: Ayu Aprilia, Mahasiswi PBA Semester 5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *