Mahasiswi PBA UNIDA Gontor Raih Juara 2 Karya Tulis Ilmiah al-Qur’an di Universitas Airlangga

Mahasiswi PBA UNIDA Gontor Raih Juara 2 Karya Tulis Ilmiah al-Qur’an di Universitas Airlangga

Memiliki misi menjadi Universitas yang bermutu dan menjadi pusat kajian Islam dan Bahasa al-Qur’an memacu mahasiswanya untuk bersaing guna merealisasiskan cita-cita trimurti. Bersaing dalam segala kegiatan dalam lingkup lokal, nasional maupun internasional.

Akhir Oktober ini, 6 mahasiswa UNIDA Gontor turut berpartisipasi aktif dalam ajang perlombaan nasional yang diadakan di Universitas Airlangga Kampus C, Mulyorejo, Surabaya. Acara ini diselenggarakan oleh Fakultas Sains dan Teknologi yang merupakan acara tahunan guna mengajak pemuda untuk berkontribusi dalam pengembangan Sumber Daya Manusia.  Cabang lomba terdiri dari kategori mahasiswa dan SMA/se-derajat dengan rincian lomba LCC (Lomba Cerdas Cermat), MSQ (Musabaqah Syarhil Qur’an), Puisi, LKTA (Lomba Karya Tulis Ilmiah al-Qur’an).

Mereka adalah 5 mahasiswi program studi IQT (Ilmu Qur’an Tafsir)  semester 3 dan satu orang mahasiswi PBA. Ia adalah Intan Fasya Zahara (PBA/ 3) yang sekaligus menjadi ketua kelompok dalam kelompok karya tulis ilmiah al-Qur’an. Dimulai dengan penyeleksian via-online dengan pengiriman abstrak ke pihak ISEF UNAIR delegasi UNIDA Gontor lolos menuju babak semifinal. Tema besar yang diusung adalah mencetak generasi muda intelektual dan spiritual yang berpegang teguh pada al-Qur’an dan Hadits dalam menghadapi Bonus Demografi di Indonesia.

Dalam kompetisi Karya Tulis Ilmiah al-Qur’an ini, mahasiswi UNIDA Gontor menggagas ide QUO FADYS. Intan Fasya mengatakan dihadapan teman-temannya seketika dihujam pertanyaan, “Mungkin kalian sering mendengar QUO FADYS adalah ungkapan Kristian yang berarti Tuhan, kemanakah engkau akan pergi? Namun, QUO FADYS yang kami gagaskan disini adalah ‘Quantum Qur’an Analysis Build Ukhrawi Oriented for Facing Demography Bonus based on Ali Imron : 14’. Selanjutnya, ia mengatakan bahwa pengumuman finalis sangatlah mendadak sehingga persiapan membuat proposal juga sangatlah mepet. Tanggal 22 Oktober baru diumumkan siapa yang masuk tahap  final sedangkan tanggal 28 Oktober mahasiswi kampus putri menghadapi Ujian Akhir Semester. Namun kecemasan itu berubah menjadi optimisme ketika perwakilan delegasi mengajukan proposal perlombaan kepada Ka.Prodi PBA al-Ustadz Muhammad Wahyudi, M. Pd. Beliau mendukung kegiatan akademis seperti ini. Beliau juga mengatakan, “Niatkan semua itu untuk dakwah dan ibadah pada Allah. Buatlah audience saat itu benar-benar sadar bahwa pemuda yang ber-QUO FADYS lah yang akan memberikan kontribusi besar bagi kesejahteraan Indonesia pada 2035 mendatang. Buatlah audience sadar kembali bahwa saat ini memang banyak manusia lupa untuk berorientasi ukhrawi”. Akhirul kalam, beliau berkata dengan bahasa Arab:“Tsiqii billah, bit-Taufiiq, wa antadzir busyraa minki..” (Yakinlah sama Allah. Semoga Allah memberikan taufiq-Nya. Saya tunggu kabar gembira dari anti).

Dengan persiapan yang tuntas delegasi UNIDA berangkat pada tanggal 25 Oktober 2019 terkait urusan prosedur proposal yang diurus dalam kurun waktu 3 hari. Berlanjut pada rentetan acara pertama yakni Technical Meeting yang lazim dihadiri seluruh peserta di Aula Kampus C. Pada hari selanjutnya yakni acara inti yaitu presentasi makalah, MSQ, LCC dan lainnya. Presentasi makalah dilaksanakan di gedung ACC bagi kategori mahasiswa dengan juri terkemuka yakni Drs. Rahmat Arif Wibowo, M.Si. selaku guru besar Fisika Universitas Airlangga dan Dr. Prihatini Widyanti drg., M. Kes, S. Bio, CCD yang merupakan biomedis, assecor, juga reviewer jurnal PIMNAS. Dilanjutkan secara prosedural di malam harinya, delegasi UNIDA Gontor menduduki urutan ke-5 dari sepuluh Finalis yang lolos hingga babak akhir. Dalam sesi evaluasi beliau sekalian berpesan kalian harus tetap berusaha. Semua yang disini adalah pemenang! Pemenang dari teman-teman sebaya yang malas-malasan, pemenang dari kontributor  yang belum terpilih, dan berani mengeksplorasikan inovasi kalian!. Sering mencoba itulah kunci keberhasilan pastinya tidak langsung mendewa semua ada prosesnya.

Diluar praduga bahwa delegasi UNIDA menjadi pemakalah terbaik kedua dengan selisih skor satu poin pada pemakalah terbaik pertama. Ketiga pemakalah sangat bersyukur dengan hasil yang diperoleh. Mereka mengatakan tak ada usaha yang sia-sia. Jatuh bangun itu suatu keniscayaan. Perjuangan kami alhamdulillah tidak sia-sia, mendekati UAS, uji mental dihadapan pembimbing alhamdulillah berbuah hasil. Apalagi ini kali pertamanya kami bertiga keluar sekelompok untuk mempresentasikan karya kami. Biasanya hanya ikutan event internal pondok atau mungkin hanya sampai babak semifinal. Dalam kesempatan ini kami belajar banyak hal bahwa dalam menuntut ilmu itu tidak prosedural atau tidak ada batas. Mahasiswa PBA bisa belajar ilmu politik, mahasiswa HI bisa belajar ilmu ekonomi. Benar pepatah yang mengatakan bahwa dengan merantau kita bagaikan burung keluar dari sangkar, kita akan mengetahui banyak hal baru yang belum kita ketahui. Bertemu dengan ragam kelompok dari universitas yang bermacam-macam memberikan pencerahan bagi kami sekalian. Maka, selagi masih muda hendaknya kita menggunakan usia produktif kita sebijak mungkin. Bukan hanya tentang senang-senang dunia semata, atau menjabat gelar ‘mahasiswa kupu-kupu’ namun harus turut berkontribusi bagi lingkungan sekitar. Menghormati hakikat ilmu sebab ilmu itu seperti samudra yang tak berselat. Kedepannya kami berharap semoga kami dapat menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dengan evaluasi ini kami berharap dapat memberikan yang terbaik untuk kampus tentu dengan bimbingan dosen yang mengarahkan direksi kami. (Intan Fasya, Aatina Khoirol)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *