Ngopi: Ngolah Pikir PBA dan Pusdiklat UNIDA Gontor

Ngopi: Ngolah Pikir PBA dan Pusdiklat UNIDA Gontor

Oleh: Muhammad Syamsul Arifin, M.Pd.

Malam Jum’at (15/10/2020) kali ini ada yang spesial di pelataran salah satu kandidat doktor linguistik Arab UNIDA Gontor. Setelah perencanaan yang sederhana untuk diagendakan pertemuan silatul ilmi wal khibrah civitas akademika muda Prodi PBA, Pusdiklat dan 2 Doktor Kandidat UNIDA Gontor, Dr. Cand. Alif Cahya Setiyadi, M.A., dan Dr. Cand. Muhammad Ismail, M.Pd.I yang masing-masing sedang menyelesaikan studi di Universiry of Leipzig Jerman dan  University of Al-Qur’an al-Karim and Islamic Sciences Omdurman Sudan.

Dengan sambutan hangat dari kedua kandidat doktor tersebut dialog terasa ringan dan santai. Berbagai topik tanpa terasa mengalir dalam pertemuan kali itu, mulai dari sharing pengalaman berjuang di ISID (red: UNIDA Gontor), budaya ilmu di Sudan dan Jerman, sosial ekonomi dan politik di kedua negara, sekilas tentang objek penelitian disertasi, hingga sedikit bumbu ‘persoalan pribadi’ yang dibalut humor menjadikan malam tak terasa sudah mulai larut.

Diawali dengan sharing pengalaman menjadi mahasiswa ISID satu dekade yang  lalu hingga menjadi dosen UNIDA. Alhamdulillah dalam pandangan Beliau, mahasiswa dan kemahasiswaan UNIDA menunjukkan progresivitas ke arah yang lebih baik. Sememtara soal budaya ilmu di Sudan lebih menyoroti dilematika ‘sanad riwayat’ yang kini sudah mengarah pada ‘budaya populer’ dan kehilangan substansi keilmuan dikarenakan beberapa faktor diantaranya situasi chaos dan kriminalisasi ulama di Sudan saat ini.

Lebih lanjut dalam hal sosial ekonomi dan politik, Cak Mail (red: Ust Ismail) menuturkan bahwa Sudan masih dirudung konflik perang saudara berkepanjangan akibat dari ‘Arabic Spring’ yang berimplikasi pada embargo ekonomi sehingga tentu berimbas pada iklim pendidikan nasional di sana. Sementara di Jerman, alhamdulillah pemerintah negeri Albert Einstein tersebut sangat fokus, efektif dan efisien dalam penanganan pandemi Covid 19 dan cukup dalam waktu 2 bulan sudah tertangani dengan baik.

Tidak kalah menarik ngobrol tentang objek penelitian kedua kandidat dokter tersebut. Ust. Alif sedikit memberi ‘clue’ dari disertasi yang akan mengelaborasi partikel ‘Jussive’ atau ‘Adawat al-Jazm’ dalam sintaksis Arab yang akan diaplikasikan untuk meneliti korpus Arab. Kemudian disertasi Ust. Ismail tentang Tes Bahasa Arab Online juga cukup menguras kuriositas para juniornya dalam pengembangan media ajar bahasa Arab berbasis online.

Dalam tradisi keilmuan Islam, hal seperti di atas harus senantiasa dirawat untuk menjaga ‘suhbatul ustadz’ yang kini mulai terkikis dari adab ‘thalibul ‘ilm’. Bukankah Abu Bakar RA, Umar RA, Utsman RA, dan Ali RA adalah ‘sahabat’ Nabi padahal notabene nya adalah murid-murid Nabi. Ini adalah ajaran Nabi tentang kedekatan bathin yang harus dibangun antara guru-murid dalam Budaya Ilmu Islam. Wallahu a’lam bisshowab. MSA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *