Sepenggal Kenangan Bersama Dr. Dihyatun Masqon, Pakar Bahasa Arab di Gontor

Sepenggal Kenangan Bersama Dr. Dihyatun Masqon, Pakar Bahasa Arab di Gontor

Hari itu, Jum’at 19 Januari 2018. Selepas sholat jum’at saya bergegas ke kamar mengambil madu dan minyak zaitun titipan saudara dari Sidoarjo untuk diberikan kepada guru tercinta saya. Madu dan minyak zaitun sudah di tangan. Saya bergegas kembali ke masjid berharap beliau belum pulang. Alhamdulillah, dari kejauhan terlihat langkah beliau yang santai tapi berwibawa. Saya mencoba mengikutinya dari belakang, tak berani menyapa di tengah jalan.

Sesampainya di depan rumah, “Assalamualaikumu ya ustadzi…” sapa saya perlahan. Beliau menoleh ke belakang dan sejenak terdiam sambil menebak siapa yang gerangan yang memanggil. “Aahh…Pak Kali Akbar! Ahlann….!”. Dari pandangan beliau, terlihat sekali nampak lelah. Maklum, sudah beberapa bulan beliau kurang sehat dan sempat dirawat beberapa kali di rumah sakit. Namun semangat mengajar beliau luar biasa. Pernah ketika itu beliau menanyakan jadwal mengajar untuk materi Sejarah Peradaban Islam. Selain itu, beliau selalu menanyakan kepada setiap mahasiswa pascasarjana yang dijumpainya, “Kaifa risalatuka ya akhi?” (bagaimana perkembangan tesismu?).

Pertemuan itu, terasa amat berbeda dari pertemuan biasanya. Beliau lebih banyak diam dan mendengarkan daripada berbicara, tanpa meninggalkan senyumannya yang khas. Setelah meminta nasihat, saya pamit undur diri. Ternyata,iItulah pertemuan terkahir saya dengan beliau, sebelum akhirnya Allah memanggilnya. Allah yarhamuh…

Al-Ustadz Dr. Dihyatun Masqon, M.A, beliau menjadi inspirasi bagi penulis. Bahkan, bagi seluruh mahasiswa Universitas Darussalam Gontor. Lebih dari itu, bisa jadi inspirator bagi siapa saja yang pernah mengenalnya. Meski beliau tak pernah menamakan dirinya motivator. Perpaduan luasnya ilmu dan tingginya akhlak ada dalam dirinya. Pakar Bahasa Arab dan Inggris, mendalami sejarah Islam, namun sangat rendah hati. Sejarah hidupku mencatat, tak ada orang yang lebih ramah dan rendah hati dari seorang Dr. Dihyatun Masqon. Beliau ini, jika bertemu dengan mahasiswa, maka beliau yang akan menyapa dulu sehingga membuat mahasiswa malu sendiri, dan berakhir kagum. Beliau menyapa siapa saja yang dijumpai. Tak kenal umur dan jabatan. Dari dosen senior hingga mahasiswa baru, bahkan para pekerja tak luput dari sapaannya. Senyumannya, dapat melunakkan hati yang keras. Menyejukkan jiwa yang sedang rapuh.

Saat mengajar di kelas, jika kedapatan ada santri atau mahasiswanya mengantuk, maka dengan lembut sambil tersenyum beliau menegur santri tersebut:”Ibtasim ya akhi!” (tersenyumlah!). Tak pernah sedikit pun ungkapan marah beliau tunjukkan di hadapan kami. Contoh lainnya, ketika itu penulis adalah mahasiswa baru di Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor, sekitar tahun 2008-2009. Asrama mahasiswa baru saat itu tepat bersebelahan dengan rumah beliau. Hampir setiap menjelang subuh, beliau berkeliling asrama kami membangunkan satu-persatu mahasiswa yang masih terlelap. “Akhi, istaiqidz! Ana Dihyah!”(Akhi, ayo bangun. Saya Dihyah!), ucap beliau sembari menarik pelan tangan saya. Ya Rabb! Di Universitas mana seorang doktor membangunkan mahasiswa barunya? Beliau tidak hanya dosen, tapi beliau seorang ayah. Ayah yang tak rela membiarkan anaknya ketinggalan shalat subuh berjama’ah.

November 2013 –seingat penulis-, beliau beserta rombongan dosen UNIDA Gontor berkunjung ke Doha, Qatar. Saat itu, qadarullah penulis sedang belajar di sana. Di sela-sela kunungan tersebut, beliau diminta untuk mengisi kajian di hadapan bapak-ibu di KAIFA, semacam sekolah agama untuk anak-anak Indonesia yang tinggal di Qatar. Seusai kajian, kami mengajak beliau makan siang di Al-Afghany, salah satu restoran Arab di Doha. Kami berenam memesan 2 piring besar nasi biryani. Satu piring untuk 3 orang. Karena porsinya terlalu banyak, kami menyerah. Tapi, beliau mengajak kami:”Ayo pak, enak sekali ini! Bismillah”. Beliau mengajak kami untuk menghabiskan makanan. Akhirnya, beliau sendiri yang menghabiskan makanan sampai tak tersisa. Kami, merasa sangat malu saat itu. Beliau menghabiskan bukan karena lapar, tapi karena tak ingin ada sisa setiap kali makan. Alalhu akbar…!

Kemudian, kami antar beliau ke hotel yang tidak jauh dari asrama saya. Pak Nur Hadi, salah seorang panitia sekaligusbapak asuh kami selama di Qatar, beliau sangat terkesan dengan sosok Dr. Dihyatun Masqon. “Masha Allah, selama hidup saya, saya belum pernah mengenal orang seramah beliau!” ungkapnya saat mengantar saya ke asrama.

Begitulah, sosok istimewa yang pernah penulis kenal. Tak cukup satu atau dua halaman untuk mendeskripsikan guru paling ikhlas itu. Hampir sulit menemukan sisi negatif beliau. Yang ada, semua mahasiswa yang mengenalnya, akan rindu bertemu dengan beliau, meski harus menyiapkan kata-kata Bahasa Arab atau Inggris. Karena sudah pasti dua bahasa itu yang akan beliau gunakan saat berkomunikasi dengan mahasiswanya.

Patah tumbuh hilang berganti, sebelum patah sudah tumbuh, sebelum hilang sudah berganti. Saat ini, ragamu sudah tiada. Tapi ruh dan semangatmu masih tetap kami rasakan. Nanti, akan lahir Dihyatun Masqon lainnya dari bumi Darussalam ini.

Setiap kata hikmah yang engkau ucapkan, semoga menjadi amal jariyah penggugur dosamu, wahai ayahanda tercinta! Ya Allah, pertemukan kami kembali di surga-Mu. Aamiin…

Allahummaghfirlahu warhamhhu wa’aafihi wa’fu ‘anhu…

[Abu Afnan]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *