Studi Akademik Mahasiswa PBA UNIDA Gontor ke Pondok Pesantren Tebuireng

Studi Akademik Mahasiswa PBA UNIDA Gontor ke Pondok Pesantren Tebuireng

UNIDA Gontor – Kamis 5 Maret 2020 Pogram Studi Pendidikan Bahasa Arab semester 2 mengadakan agenda Studi Akademik dengan mengunjungi beberapa pondok pesantren yang ada di Jawa Timur, salah satunya adalah pondok pesantren Tebuireng yang berada di Kota Jombang.

Pada kunjungan ini dibimbing oleh ketua Prodi PBA yaitu al Ustadz Muhammad Wahyudi M.Pd dan Kabag. Kemahasiswaan  prodi PBA Al-Ustadz Dedi Mulyanto M.Pd. Dalam kunjungan ini, berharap para mahasiswa UNIDA Gontor Program Studi Pendidikan Bahasa Arab semester 2 dapat menambah ilmu baru yang bermanfaat serta mampu mengambil nilai – nilai positf yang ada di pondok pesantren Tebuireng.

Pondok pesantren Tebuireng merupakan pondok pesantren tertua yang ada di Jawa Timur yang berusia 121 tahun, didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari sejak tahun 1899 sampai sekarang. Di pondok ini terdapat madrasah mu’alimin yang memiliki tujuan untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan masyarakat seputar ilmu fiqih.

Madrasah mu’alimin yang ada di pondok ini berdeba dengan Kuliyyatul Mu’alimin al- Islamiyah yang ada di Gontor karena di pondok ini memiliki 2 metode yang dikelompokkan, yaitu metode ngaji sima’i atau yang sering disebut ngaji bandongan dan ngaji qiraatan ilaihim atau yang sering disebut ngaji sorogan.

Ngaji bandongan ini merupakan proses pembelajaran bagi santri yang mana para ustadz disini menjelaskan kepada para santrinya apa yang ada di dalam kitab turos atau sering kita sebut kitab kuning, kemudian para santri menyimak apa yang di jelaskan oleh ustadz – ustadznya.

Kelemahannya didalam ngaji bandongan ini adalah prosesnya terlalu lama serta para santri menjadi pasif. Kelebihannya adalah para santri mampu memngambil makna khusus dari para ustadz – ustadznya.

Kemudian metode ke dua adalah ngaji sorogan, didalam metode ini kebalikan dari ngaji bandongan yang mana para asatidz menjadi pasif dan para santri menjadi aktif dalam membaca kitab kuning. Jikalau ada kesalahan dalam membaca kitab kuning, para asatidz langsung membenarkan apa yang dibaca santrinya dan berharap tidak terulang kembali pada kesalahan yang sama dalam membaca.

Kelemahannya didalam ngaji sorogan ini adalah tidak semua santri bisa mengikuti ngaji sorogan karena sangatlah sulit dalam pembelajarannya, kelebihannya adalah santri yang mengikuti ngaji sorogan mampu memacu kemampuan membaca dan memahami kitab kuning secara cepat dan menjadi analisis yang mampu memahami kata per kata.

Diakhir acara ada pesan yang disampaikan oleh Al-Ustadz Yunus selaku pimpinan pusat kajian pemikiran Hasyim Asy’ari yaitu mengenai kata طالب yang memiliki arti mencari, beliau mengibaratkan طالب itu bagaikan harimau dan ilmu itu bagaikan buruannya. Kalaulah harimau itu lapar maka akan terus mencari dan mengejar buruannya, sama seperti  طالب harus terus mencari ilmu, karena ilmu itu يُأْتَى وَ لَا يَأْتِى  dan ditutup dengan do’a oleh Al Ustadz Muhammad Wahyudi M.Pd. selaku ketua Prodi Pendidikan Bahasa Arab UNIDA Gontor.

Penulis: Hasan al Mubarok Sidiq
Editor: Ahmad Kali Akbar, M.Pd., Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Arab UNIDA Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *