Ujian MKDU dan MKDK: Uji Nalar Pemahaman Mahasiswi Akhir

Ujian MKDU dan MKDK: Uji Nalar Pemahaman Mahasiswi Akhir

Jum’at, 9 Oktober mahasiswi PBA semester 7 dihadapkan dengan salah satu rentetan wajib akademik yakni ujian MKDU (Materi Kuliah Dasar Umum). Ujian ini dihadiri oleh Dekan Fakultas Tarbiyah, Ka Prodi Pendidikan Agama Islam, dan Pendidikan Bahasa Arab beserta para jajaran dosen selaku penguji MKDU. Pelaksanaan ujiannya dilaksanakan secara serempak terhadap mahasiswi reguler maupun guru. Bertempat di gedung Mesir, ujian dilakukan secara lisan dengan sesi ujian 5 orang secara bergilir.

Sebagaimana yang dilaksanakan oleh kampus lain pada hari-hari sebelumnya. Ujian MKDU memiliki urgensi besar, sebab seringkali kita mendengar bahwa perkuliahan merupakan sesi untuk mempelajari keilmuan secara teoritis guna memawaskan diri dalam penerapan ilmu praktis yakni masyarakat luas. Oleh karena itu, diadakannya ujian MKDU secara lisan tak lain untuk menguji nalar pemahaman mahasiswi tingkat akhir bahwa ilmu yang mereka pelajari bukan hanya sampai pada batas ilmu.

Dengan harapan alilmu fi suduur wa laisa fi sutuur (ilmu itu berada dalam hati bukan hanya sampai batasan tertentu) atau al-ilmu fi al-quluub wa laisa fi sunduuq (ilmu itu berada dalam hati mereka, bukan hanya tersimpan di lemari). Sebab doktrin umat terkait mahasantri sangatlah baik dengan definisi kaum intelektual bangsa yang disempurnakan dengan khazanah keilmuan Islam untuk berkiprah di tengah masyarakat.

Materi ujian dalam MKDU antara lain; Aqidah, Tauhid, Worldview Islam, Syariah, Ilmu Qur’an, Ilmu Hadits, dan beberapa materi umum terkait Islamisasi sebagaimana Universitas Darussalam Gontor merupakan perguruan tinggi dengan nilai Islamisasi yang sarat. Dalam sesi ujian MKDU seluruh mahasiswi semester 7 dinyatakan lulus secara keseluruhan sebagaimana yang diungkapkan oleh Nurly Khalida Syamna (PBA 2017). Ditambah lagi ia  memaparkan terkait urgensi ujian MKDU yang memainkan peran penting bahwasanya dalam MKDU pemahaman kita terkait materi perkuliahan diuji lebih jauh karena soal yang dipaparkan sangat berbeda dengan soal KMI, termasuk di Fiqh contohnya kita akan diberikan pertanyaan terkait isu kontemporer serta bagaimana tanggapan kita dalam berargumen. Dalam hal ini mahasiswi  dituntut bijak untuk menyampaikan hukum-hukum Islam sebagai tanggapan akan isu kontemporer yang menjadi penguatan pemahaman sebelum terjun pada masyarakat secara riil.

Sejalan dengan pernyataan Nurly Khalida, Lulu Af’idati (PBA 2017) turut memberikan tanggapan terkait urgensi MKDU selaku ujian bagi segenap mahasiswi secara mutlak. Ia mengatakan “Menurut saya MKDU bukan hanya soal review atau uji materi namun merupakan uji  pemahaman secara komprehensif untuk persiapan dan bekal di  masa depan karena sebagai mahasiswi tingkat akhir tentu sisa masa menjadi mahasiswi dapat dihitung hari. Terlebih, seberapa banyak buku yang kita telan untuk bekal menghadapi tantangan luar minimal menjadi seseorang yang bermanfaat bagi  umat. Karena, pada hakikatnya menjadi sarjana bukan hanya kesenangan semata namun akan banyak tuntutan dan tantangan nyata usai gelar akademik yang nantinya akan kita capai.

Menyusul rentetan Ujian MKDU, dalam mendekat ini pada Jum’at 16 Oktober 2020 serta pekan selanjutnya akan diadakan Ujian MKDK I dan II dengan materi yang lebih menjuru pada keprodian seperti Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab dan Linguistik. Dengan itu, sebagai praktisi  akademik perlu kita mempersiapkan diri dari sekarang. Menata dan memperbarui niat bahwasanya belajar senantiasa diniatkan untuk Allah, karena ketika kita menempatkan ukhrawi diatas duniawi maka keberhasilan akan mencakup dalam lingkup daaroini. Perlu juga diingat, bahwa masa studi perkuliahan merupakan soal teoritis, namun seketika gelar akademik kita dapatkan merupakan peralihan nyata untuk membuat ilmu yang kita pelajari menjadi  praktis. Sebab orientasi kita adalah masyarakat dan kebermanfaatan. Sesuai dengan ayat pendidikan fenomenal Gontor,

وما كان المؤمنون لينفروا كافّة فلولا نفر من كلّ فرقة منهم طائفة ليتفقّهوا في الدين ولينذروا قومهم إذا رجعوا إليهم لعلّهم يحذرون (التوبة: 122)ا

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu  pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya (at-Taubah: 144)

Maka, apa-apa yang tengah kita lihat, dengar, dan rasakan saat ini merupakan proses panjang sebelum menghadapi kenyataan keras yang harus dibenarkan. Karena dimanapun kita melangkah nantinya, kitalah pejuang nilai Islam untuk tetap teguh di negeri Indonesia. Fa amma ba’du, At-Taufiq wa najah lana jamii’an li muwaajahati al-imtihaan.


Rep: Intan Fasya Zahara (Mahasiswi PBA Semsester 5)
Informan: Nurly Khalida Syamna, Lulu Af’idati (Mahasiswi PBA Semsester 7)
Ed: Riza N

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *