Adab Menjamu Tamu

Menjamu tamu merupakan menjamu (memberi penghormatan) yang layak diterima seorang tamu dengan mencukupi segala kebutuhan pokok seperti makan, minum dan sebagainya. Menjamu tamu merupakan budi pekerti mulia dan kebiasaan yang baik.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dan Abu Syuraih Al-Khuza’i R.A. bahwa Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa beriman pada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berbuat baik pada tetangganya; barang siapa beriman pada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari & Muslim).

Menjamu tamu hanya wajib dilakukan selama sehari semalam sebagai suatu kebaikan dan hadiah, lebih dari itu hukumnya sunnah. Sempurnanya selama tiga hari, jika tamu menginap selama tiga hari, tuan rumah tidak wajib menyuguhinya tetapi apabila tuan rumah terus melayani tamunya itu merupakan perbuatan baik seperti halnya sedekah.

Abu Dawud meriwayatkan dalam Sunan-nya dari Asyhab, ia bercerita: Malik ditanya tentang sabda Nabi SAW; “Hadiahnya sehari semalam”, maka ia menjawab, “Tuan rumah memuliakan tamu, memberi hadiah, dan melindunginya sehari semalam, dan tiga hari jamuan.”

Adab menjamu tamu sebagai berikut :

  1. Menghormati tamu
    Sebagai mana dalam Al-Qur’an Surat Yusuf ayat 56 “Dan ketika dia (Yusuf) menyiapkan bahan makanan untuk mereka, dia berkata, “Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin), tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan takaran dan aku adalah penerima tamu yang terbaik?”
  1. Menjawab salam
    “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya atau balaslah penghormatan itu (dengan serupa dengannya).” (Q.S. An Nisa’: 86).
  1. Bersegera didalam menjamu tamu
    “Dan para utusan kami telah datang kepada nabi ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan “selamat” nabi ibrahim menjawab, “selamat” maka tidak lama kemudian nabi ibrahim menyuguhkan anak sapi yang dipanggang.” (Q.S. Hud: 69).

Referensi :

Al-Qur’an
Thawilah, Abdul Wahab Abdussalam. 2012. Fiqih Kuliner. Pustaka Al-Kautsar Penerbit Buku Islam Utama: Jakarta

(Siti Nurhayati, S.Pd/Ed. RN)

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on google
Share on email
Share on print

Seminar Terjemah

Contact us, for more informationRahmad Maulana Tazali or Zainal Abidin

Berita Terbaru

Adab Menjamu Tamu

Menjamu tamu merupakan menjamu (memberi penghormatan) yang layak diterima seorang