Contoh Dokumen Esai

Berikut adalah dokumen esai salah satu mahasiswi PBA yang berhasil meraih juara 3 dalam perlombaan esai nasional oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Semoga dokumen esai ini bermanfaat bagi seluruh pihak, mampu menjadi referensi ataupun komparasi untuk karya yang lebih baik lagi dan menjadi jariyah hasanah!

Klik disini untuk mengunduh file dalam format Ms. Word


Islamic Treatment as Traumatic Healing during Pandemic COVID 19 refered to Al-Baqarah 153-157

Wahai jiwa-jiwa yang suci, Kembalikanlah segala urusanmu kepada Allah!

Kutipan ayatullah tersebut bukanlah kalimat pembuka. Namun, menjadi landasan penting dalam pemahaman deskripsi esai ini. Adalah COVID-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2, berdampak secara signifikan bagi kehidupan umat manusia sehingga turut menyita perhatian publik (Liputan 6, 2020). Salah satunya ialah lini psikologi, sebagai aspek yang tak kalah penting namun masih mendapat respons miring. Sebuah data melansir bahwa 80 % masyarakat Indonesia hampir-hampir memiliki gangguan psikologi akibat wabah tersebut (ABC Australia, 2020 pukul 15: 33 WIB). Maka tidak berlebihan jika dikatakan kesehatan mental turut mempengaruhi kepribadian seseorang dalam bersosial (Soebiantoro, 2016). Terlebih, guncangan mental merupakan topik primordial dan bagian dari patologi sosial.[1]

Polemik tersebut ditandai dengan kegelisahan mental yang disebabkan karena faktor internal-eksternal, alasan rasional seperti bencana alam, wabah yang mendominasi kehidupan hingga irasional (Faidi, 2018). Berawal dari pemikiran yang berlebihan (overthinking), memicu stress, hingga dapatsaja dikatakan rendahnya kondisi mental masyarakat justru memperumit keadaan sosial dalam memutus rantai penyebaran virus. Sehinga perlu adanya reaktualisasi keseimbangan antara kekuatan fisik dan mental guna membangun kehidupan masyarakat yang sesuai standar sosial. Lebih-lebih, kecemasan dan kegelisahan berlebih akan berdampak pada anxiety disorder (gangguan kegelisahan).

Sehingga sebagai antisipasi akan jatuhnya masyarakat pada jurang hiperrealitas, perlu adanya peningkatan keterampilan, pembinaan mental dan spiritual yang acapkali tergeserkan (Taubah, 2015). Kajian mental yang meliputi tiga komponen 1)Pikiran, 2)Emosional, dan 3)Spiritual tidak boleh begitu saja dilupakan melainkan harus dipahamkan dan digaungkan (Nurdiana, 2017). Sebab kegagalan dalam proses pemenuhan kebutuhan akan berdampak negatif pada pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, intelektual, juga sosial. Dengannya kesejahteraan peradaban juga ditangguhkan (Geldard, 2011).

Pemaknaan awal dilakukan dengan mengetahui kata ‘kesehatan mental’ yakni kondisi individu yang berada dalam keadaan sejahtera, mengenal potensi dirinya dan mampu mengahadapi tekanan sehari-hari dengan berkontribusi pada lingkungan sekitar (Mental Health During Covid-19 Pandemic, 2019).  Sejalan dengan kata kunci tersebut, penulis selaku mahasiswa sadar peran bahwa mutlaknya menjadi agent of change atau front liner pergejolakan bangsa. Dengan menginisiasikan solusi ‘Psikoterapi spiritual pola fikir melalui penerapan nilai-nilai Islam (Islamic Treatment)’ berlandaskan pada surat Al-Baqarah 153-157 yang berbunyi:

Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan dengan sabar  dan sholat. Allah bersama orang yang sabar. Janganlah kamu mengatakah orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati. Tidak, mereka hidup, sekalipun tidak kamu rasakan. Kami pasti akan menguji kamu dengan perasaan agak takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang bersabar. Mereka yang berkata jika ditimpa musibah, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’. Kami milik Allah dan kepada-Nya pasti kami kembali. Mereka itulah yang mendapat karunia dan rahmat dari Tuhan dan mereka itulah orang yang mendapat petunjuk.

Untuk membangun pola fikir yang baik, perlu adanya rekontruksi pemahaman ‘Apakah pandemi ini musibah atau justru berkah?’, dengan senantiasa melihat aspek postif dari sebuah fenomena. Terlebih, pola fikir yang baik terdapat pada jiwa yang baik yangmana keduanya  saling berintegrasi. Tak lebih dan tak kurang, jiwa merupakan aspek ruhani yang membentuk perilaku atau jasmani. Sejalan dengan itu, Rasulluah SAW mengingatkan Tauhid sebagai obat mujarrab segala  persoalan (termasuk jiwa) dengan memperhatikan 10 pilar yakni: 1)Tauhid adalah pokok penyucian jiwa, 2)Doa adalah kunci penyucian jiwa, 3)Al-Qur’anul Kariim adalah summber penyucian, 4)Meneladani sosok panutan, 5)Tazkiyah adalah takhliyyah (mengosongkan) dan tahliyyah (menghiasi), 6)Menjauhkan sifat utama yang menjerumuskan pada hal buruk, 7)Mengingat kematian, 8)Memilih teman duduk, 9)Waspada terhadap ujub (bangga diri), dan 10)Mengenal jiwa. (Al-Badr).

Meninjau asas tersebut, persepsi yang perlu dibangun pertama kali adalah pemaknaan musibah yang tengah melanda bangsa. Sejalan dengan ungkapan Dr M Sarbini MHI selaku ketua umum Dewan Pengurus Pusat HASMI (Himpunan Ahlussunnah untuk Masyarakat Islami) menjelaskan bagaimana Islam mengajarkan pemeluknya menyikapi ujian, yakni dengan mengimani dan mengamini bahwa tak ada satupun manusia yang terlepas dari ujian, baik ujian yang menyenangkan maupun tidak (Miranti, 2020). Sedangkan wabah yang ada, sebagaimana maktub dalam hadith Aisyah RA dia berkata, ‘Aku bertanya kepada Rasulluah SAW tentang wabah (tha’un) itu adalah azab yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah jadikan sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Tidaklah seseorang yang ketika terjadi wabah (tha’un) dia tinggal di kampungnya, bersabar, dan berharap pahala (di sisi Allah), dia yakin bahwasanya tidak akan menimpanya kecuali apa yang ditetapkan Allah untuknya. Maka, dia akan mendapatkan seperti pahala syahid’ (HR Bukhari).

Setelah mengetahui pemaknaan musibah dalam kaca mata pandang Islam, maka langkah yang dapat dilakukan supaya tetap sehat mental ialah dengan memperdalam wawasan secara spiritual. Seperti memaknai dalil Al-Qur’an, ijtihad ulama layaknya Said Nursi, Ibnu Sina dan tokoh-tokoh Islam lainnya. Salah satu konsep psikologi medis yang ditawarkan Ibnu Sina kala masyarakat dilanda wabaa’ ialah menghimbau untuk tidak cemas berlebihan, takut pada virus, menjaga kesucian serta kesehatan, dan memikirkan hal positif maka virus itu akan terhempas (Rahman, 2020). Lain halnya dengan Nursi, dimana ia menyatakan dalam nuktahnya musibah itu akan besar  jika diperbesar-besarkan. Tatkala musibah paling besar apabila menyerang agama, maka jika tidak menyerang agama pada hakikatnya bukanlah musibah melainkan memiliki makna lain seperti peringatan Allah bagi hamba-Nya yang lalai, musibah sebagai penebus dosa, dan musibah sebagai anugerah Ilahi dalam memberikan ketenangan dengan membendung kelalaian (Nursi, 2018).

Ayat pedoman tersebut juga asas yang diuraikan Rasulluah mengajak umat manusia sekalian untuk senantiasa bersabar dalam menghadapi ujian. Yangmana kesabaran tersebut diklasifikasikan menjadi tiga macam yakni sabar dalam meninggalkan beberapa hal yang diharamkan atau berpotensi dosa, sabar dalam mendekatkan diri pada Allah, dan sabar dalam mengahadapi lagi menerima beragam ujian dan cobaan (Chirzin, 2020). Maka, seseorang dapat dikatakan sabar apabila mampu menjalankan syariat Allah meskipun berat ataupun menjauhi hal-hal yang dilarang Allah meskipun terlihat menyenangkan dalam pandangan. Dengan itu, nyatalah janji Allah pada QS 2:153-157 bahwasanya Ia akan memberikan anugerah bagi yang menyerahkan segala urusan dengan penuh kesabaran. Dan, meyakini juga memaknai kalimat ‘Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un’. Sehingga apabila komitmen manusia telah dijunjung tinggikan, tegaklah sebuah kehidupan yang baik dalam lingkup sosial.

Bukan hanya berhenti dalam pendekatan spiritual, penulis menginisiasikan sebuah konsep pemahaman Islam yang turut memperhatikan bagaimana bersikap pada tatanan sosial. Setelah meninjau kajian teoritis untuk meminimalisir kecemasan dan memikirkan atau melakukan hal positif, maka self healing maupun pendekatan praktis yang dapat dilakukan ialah mindfullness and non-judgemental (menetralkan pikiran), meditasi dengan membayangkan hal-hal menyenangkan secara visual, auditori, ataupun kinestetik sekalipun bersifat sekejap namun berpotensi dalam menanggulangi kecemasan berlebih, self-talk guna membentuk kembali pola fikir yang positif demi meningkatkan kualitas emosi dan perasaan, bahkan expressive writing atau menuaikan emosi, perasaan, ujian dan kesulitan dengan tulisan  sebagai bentuk refleksi, dan masih banyak cara lain sebagai peralihan diri untuk selalu menuai produktifitas.

Adapun dalam menyikapi kebijakan pemerintah terhadap tatanan sosial, tak ayal ditemukan kejenuhan dalam beradaptasi pada keadaan sosial. Maka, adanya pandemi bukan menjadi batasan terputusnya rantai sosial melainkan setiap individu tetap mampu melakukan sosial support yang dapat diadopsi dengan membangun komunikasi melalui perkembangan digital, senantiasa mengingatkan sanak saudara, handai taulan dalam menjaga protokol kesehatan, bahkan tetap beraktifitas sekalipun melalui sistem elektronik (Airlangga, 2020). Terapi lain yang dapat dilakukan seperti  stretching[2], berjemur di pagi hari, rehat, menikmati kebersamaan secara luring ataupun daring, memanfaatkan quality time bersama keluarga, atau bahkan merapikan properti yang menumpuk kusam. Maka, besar harap penulis bahwa Islamic Treatment mampu menjadi terobosan dalam meningkatkan imun maupun iman masyarakat. Sebab, imun seseorang akan naik ketika iman sedang meningkat. Selain itu, barometer sehat mental secara psikis ialah tetap produktif sebagaimana  salah satu karakteristik sehat mental ialah mampu menebar kebermanfaatan sesuai bidang kerjanya, keluarga, maupun komunitas sosial. Sehingga, jiwa-jiwa yang tenang, mendekatkan diri kepada Allah, melakukan hal positif memiliki jaminan kesehatan yang lebih besar dibandingkan jiwa-jiwa lemah, pesimis, lagi pengeluh. Menutup esai ini, penulis mengutip pesan tokoh kedokteran dunia tersohor Sheikh al-Rayees yakni “kepanikan separuh penyakit, ketenangan separuh obat, dan kesabaran permulaan kesembuhan.”


[1] Patologi (pathos=penderitaan, penyakit): ilmu tentang penyakit. Patologi sosial= ilmu tentang gejala sosial yang dianggap ‘sakit’ disebabkan oleh faktor-faktor sosial.

[2] Berjalan ke  teras rumah untuk peregangan otot setelah melakukan sebuah aktifitas dalam durasi lama

DAFTAR PUSTAKA

ABC Australia. ( 2020 pukul 15: 33 WIB, Mei Jum’at 8). Retrieved from “Kenali Dampak Psikologi Virus Corona di Indonesia dan Cara Mengatasinya”, https://www.tempo.co/abc/5570/kenali-dampak-psikologi-virus-corona-di-indonesia-dan-cara-mengatasinya

Mental Health During Covid-19 Pandemic. (2019). Retrieved April 28, 2020, from World Health Organization.

Liputan 6. (2020, April 22 April 2020). Retrieved from “Nekat Nongkrong Saat Pandemi Corona Covid-19, ABG Dihukum Gorong Motor”, https://www.liputan6.com/otomotif/read/4233477/nekat-nongkrong-saat-pandemi-corona-covid-19-abg-dihukum-dorong-motor

Airlangga, F. P. (2020). Tetap Sehat Mental selama Masa Pandemi COVID 19. Surabaya: Departemen Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental.

Al-Badr, S. A. (n.d.). Sepuluh Tips Membersihkan Jiwa.

Chirzin, M. (2020, Juni). Musibah Sebagai Peringatan, Ujian, dan Hukuman. Gontor Media Perekat Umat : Memaknai Musibah, p. 20.

(2018). Ayat-Ayat Syifa: al-Qur’an Sebagai Terapi Psikologis. In A. Faidi. Salatiga: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M IAIN Salatiga).

Geldard, G. K. (2011). Konseling Keluarga. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Miranti, E. (2020, Juni). Memaknai Musibah. Gontor Media Perekat Umat : Memaknai Musibah, p. 6.

Nurdiana, D. (2017). Peran Oranag Tua Tunggal (Ibu) dalam Mengembangkan Moralitas Anak di Kelurahan Tlogo Mulyo Kecamatan Pedurungan Semarang. JESS 6 (1) Journal of Eucational Social Studies, 54.

Nursi, B. S. (2018). Al Lama’at (Dari kumpulan Risalah Nur). Tangerang Selatan: Risalah Nur Press.

Rahman, A. (2020, Juni). Teori dan Praktik Ibnu Sina Hadapi COVID-19 Bag Kedua. Gontor Media Perekat Umat : Memaknai Musibah, p. 12.

Soebiantoro, J. (2016). Pengaruh Edukasi Kesehatan Mental Intensif Terhadap Stigma pada Pengguna Layanan Kesehatan Mental. Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental ISSN 2528-5181 INSAN, 3.

Taubah, M. (2015). Pendidikan Anak dalam Keluarga Perspektif Islam . Jurnal Pendidikan Agama Islam, Vol. 3, No. 1, 111.


Klik disini untuk mengunduh file dalam format Ms. Word

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on google
Share on email
Share on print

Contoh Dokumen Esai

Berikut adalah dokumen esai salah satu mahasiswi PBA yang berhasil

Berita Terbaru