Dosenku, Double Masters Degree dari Sudan

ika klub Barcelona punya gelandang Xafi Hernandes pada zamannya, maka sosok dosen muda PBA UNIDA Gontor ini adalah gelandang handal sepak bola sejak kecilnya hingga sekarang. Beliau biasa dipanggil ust. Azhar, lengkapnya Azhar Amir Zaen, M.Ed. Beliau baru saja menuntaskan studi master di dua kampus berbeda di Sudan, negara yang terletak di timur laut benua Afrika.

Ahad lepas maghrib, 10 Oktober 2020, penulis beserta dua kawan, berkesempatan untuk bersilaturrahim ke kediaman Ust. Azhar Amir Zaen, M.Ed., di Ngabar, Ponorogo. Perbincangan hangat antar teman sejawat dan seangkatan waktu di KMI, sama-sama alumni 2009 (Paragon Generation) berjalan hangat dan santai. Sosok beliau yang tawadhu’ dan senyuman khasnya menyambut kedatangan kami di depan rumah. Selama di KMI beliau selalu duduk di kelas B hingga lulus tahun 2009. Setelah lulus beliau mendapat tugas sebagai salah satu staf pengasuhan santri di tahun keduanya. Disiplin, tegas dan ulet adalah ciri khas beliau, lulus S1 PBA ISID Gontor tahun 2014. Kemudian melanjutkan S2 di PBA Pascasarjana UNIDA Gontor, walaupun hanya satu semester, kemudian tahun 2017 – 2020 melanjutkan studi S2 (Masternya) di Sudan. Berikut, sedikit cerita apik selama menimba ilmu di negeri orang dengan segala tantangan dan ujianya.

Perjalanan petualangan beliau di Sudan dimulai pada 31 Juli 2017 berangkat dari Jakarta, dan tiba di Sudan 1 Agustus 2017. Beliau didaftarkan langsung oleh bapak Rektor Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A., dan WR.1 Assoc. Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.,M.Phil, sewaktu kunjungan dan penandatanganan Mou di beberapa universitas. Di antaranya Ma’had al-Khartoum al-Dawliy li al-Lughah al-‘Arabiyyah, Khartoum, Universitas Internasional Afrika (UIA), Universitas al Quran Umdurman dan lain-lain di Sudan.

Di kampus Ma’had al-Khartoum, perkuliahan berlangsung selama 5 hari, selain Jumat dan Sabtu. Setiap hari diisi dua materi kuliah. Setiap pagi jam 8 sampai sebelum dzuhur. Kira kira pukul 12.15. Biaya kuliah selama 4 semester sekitar 4.000 dollar. Tanpa asrama dan uang makan. Sehingga untuk semseter pertama beliau dibantu oleh beberapa kawan IKPM untuk tinggal bersama di asrama mahasiswa Indonesia yang noatebennya sama-sama alumni KMI Gontor.

Memasuki semester kedua, beliau juga mengikuti seleksi beasiswa S2 di Universitas Internasional Afrika, Fakultas Bahasa Arab Qism Ilm Lughah Tathbīqiy, dan alhamdulillah bisa lulus seleksi masuk S2, mendapatkan beasiswa serta asrama selama 4 Semester. Belajar di dua universitas sekaligus tak akan mudah bagi mereka yang tak pandai mengatur waktu dan kemauan yang kuat dan tangguh, akan tetapi, Ust. Azhar adalah orang yang ulet, khidmah kepada pondok dilakukan secara all out dan all round, tanpa kenal lelah. Latihan panjang di pondok membentuk karakter pemuda yang bermental pejuang. Kuliah di Ma’had al-Khartoum dilaksanakan di pagi hari, dan kuliah di UIA dilaksanakan sore hari, jarak kedua kampus sekitar 15 menit dengan berjalan kaki.

Sebagai seorang mantan Bagian Keamanan di OPPM sewaktu menjadi santri dan sebagai staf pengasuhan santri ketika menjadi ustadz di Gontor membuat beliau sudah familiar bagi anggota IKPM Gontor cabang Sudan. Anggota IKPM Sudan banyak membantu beliau dimasa awal tiba di Sudan. Selama hidup di Sudan beliau beliau dan rekan lain juga harus bekerja. Untuk menambah penghasilan. Bagi beliau: “Asal halal bisa dijalani dan akan berkah”. Menjadi food delivery service juga pernah dilakukan. Bahkan yang paling berhasil adalah menjadi panitia pemilu KBRI. Walaupun penuh kegiatan, tape beliau tak melewatkan untuk bisa hadir di halaqah-halaqah ilmu yang diadakan oleh para masyayikh, baik halaqah hadits, Nahwu, sharf, dan balagah. Masa muda yang dihabiskan untuk menuntut ilmu, semuanya akan menjadi bekal untuk melanjutkan perjuangan di kampung halaman.
Bukan perjuangan jika tak ada pengorbanan. Walupun hidup tak semudah yang diimpikan, tapi impian untuk bisa selesai tepat waktu terus beliau pegang erat dan perjuangkan. Akhirnya, di semester akhir beliau bisa menuntaskan Tesis yg ditulis Ma’had Khartoum dengan mengambil tema Ta’līm al-lughah al-Arabiyah al Kibār linnathiqina bighairiha sebagai Tesis. Dan untuk di UIA dengan fokus teori kognitif dalam maharah al qiraah. Sidang tesis dilaksanakan pada Ahad 22 September 2020. Semua tantangan beliau jalani, di masa Covid-19 dan pembimbing yang jauh, jika ingin bertemu harus naik kendaraan sekita 4 jam. Tapi kita ingat من صبر ظفر barang siapa bersabar pasti beruntung. Dan kedua thesis bisa lulus dengan nilai Mumtaz.

Setelah 3 tahun 2 bulan studi d Sudan, beliau akhirnya kembali ke Indonesia tanggal 4 Oktober 2020 jam 6 sore waktu Sudan (Afrika Tengah). Sekitar selisih 6 jam dari waktu Jakarta. Lalu tiba di Jakarta 5 Oktober 2020 sore. Lalu cek PCR dan negatif. Lalu 2 hari di Jakarta. Rabu sore flight ke Juanda Surabaya. Dan dijemput keluarga tercinta di Surabaya, kemudian diantar kembali ke kampung halaman Ngabar-Ponorogo. Beliau akan melanjutkan perjuangannya di Prodi PBA UNIDA Gontor dan juga mengajar di Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar. Semoga dengan bertambahnya dosen di Prodi PBA bisa meningkatkan kualitas pelayanan prodi dan berdampak positif untuk menggali bakat dan potensi seluruh mahasiswa/i prodi PBA pada khususnya dan UNIDA Gontor pada umumnya. Beliau akan diamanahi sebagai wakil bagian kemahasiswaan Prodi PBA, serta akan menambah halaqah kajian baru di asrama PBA.

(Rep: M. Taqiyuddin, Muh. Wahyudi, Ahmad Rijal K/Edited by: Azhar Amir Zaen)

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on google
Share on email
Share on print

Adab Menjamu Tamu

Menjamu tamu merupakan menjamu (memberi penghormatan) yang layak diterima seorang

Berita Terbaru