Fresh-Graduate High Quality, Mind-Map Tujuan Hidup Secara Matang!

Menjadi seorang sarjana merupakan sebuah impian yang didambakan banyak orang. Menjalani proses perkuliahan selama kurang lebih 4 tahun merupakan harga mati perjuangan yang harus dibayar. Seperti yang selalu disampaikan oleh Prof Hamid kepada mahasiswanya “S1 bagi saya harus berdarah-darah, harus memiliki studying habit, living habit, intellectual habit, termasuk bagaimana menghadapi tantangan yang merugikan diri kita sendiri” itulah ungkapan yang selalu terngiang dalam benak ini, sehingga pada akhirnya dengan izin Allah SWT saya dapat menyelesaikan studi selama 3 tahun setengah dengan husnul khatimah.

Berbicara tentang masa penyelesaian studi S1 tidak sedikit dari mahasiswa yang memiliki ambisi tinggi untuk menyelesaikan studinya selama 3 tahun setengah. Ada banyak alasan yang menjadikan seseorang memiliki keinginan tersebut. Diantaranya ialah dengan lulus cepat supaya dapat mengurangi biaya dan juga dapat melanjutkan target yang ingin dicapai setelah lulus kuliah nanti. Namun menurut hemat saya esensi dari perkuliahan selama S1 adalah dapat menyelesaikan perjuangan dengan penuh keinsyafan dalam belajar, bukan lulus kuliah cepat karena telah bosan dan jenuh serta ingin mengakhiri proses belajarnya. Seperti pesan dari Trimurti Gontor “Sebesar keinsyafanmu, sebesar itupula keberuntunganmu”. Karena dengan tujuan yang pragmatis, seseorang hanya akan mendapatkan sesuatu yang hampa tanpa ada nilai berharga, baik dari segi ilmu pengetahuan hingga pengalaman. Hal inilah yang semestinya harus sama-sama kita cermati bahwa tujuan dari pendidikan bukan hanya sekedar mendapatkan ijazah, tetapi lebih kompleks daripada itu yaitu agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2003.

Dokumentasi Sidang Skripsi Naufal Akmal Syammary, S.Pd,

Mengonsep Kelulusan, Mengonsep Masa Depan

Jika kekosongan ini tidak terencana dengan baik, maka hal negatif-lah yang akan hadir di masa transisi tersebut. Maka dari itu seorang freshgraduate harus memiliki prencanaan yang matang,

Naufal Akmal Syammary, S.Pd,

Di sisi lain setelah mendapatkan gelar sarjana, kelulusan yang diyakini akan membawa kehidupan lebih tenang nyatanya membuka ribuan tantangan baru yang harus dihadapi. Kita akan menyadari bahwa menjadi seorang freshgraduate ternyata tidaklah mudah. Sejatinya kita baru akan memulai perjuangan melangkahkan kaki untuk menggapai segala apa yang kita impikan. Kebanyakan dari kita pasti merasa bingung akan apa yang harus dilakukan setelah wisuda. Hal inilah yang pernah saya alami dan mungkin akan selalu membayangi seorang freshgraduate lainnya setelah melewati proses kelulusan. Jika kekosongan ini tidak terencana dengan baik, maka hal negatif-lah yang akan hadir di masa transisi tersebut. Maka dari itu seorang freshgraduate harus memiliki prencanaan yang matang, karena masa depan harus terkonsep dan terpikirkan. Untuk mengatasi hal tersebut saya akan sematkan beberapa tips menurut pengalaman pribadi yang dapat diimplementasikan oleh teman-teman semua agar kekosongan setelah wisuda tetap menjadi sesuatu yang produktif demi mencapai masa depan yang didambakan, diantaranya adalah:

  1. Mengenali Jati Diri

Sebelum kita memulai langkah baru untuk kembali melanjutkan perjuangan, alangkah baiknya kita harus mengawali dengan mengenal diri sendiri. Who are you? Karena hal ini akan menentukan perencanaan dan pilihan yang akan kita tentukan kedepannya. Terkadang rasa bimbang, bingung atas diri sendiri muncul akibat kita tidak mengenali jati diri. Hal ini akan berdampak pada karir dan masa depan kita nantinya. Jikalau tidak bisa kita atasi, hal yang sepele ini bisa berakibat pada mental health yang membawa sesorang selalu merasa overthinking. Akan banyak pertanyaan yang muncul pada masa ini, seperti; setelah ini langsung lanjut S2, pengabdian staf atau kerja ? Kira-kira di luar nanti saya bisa survive nggak yah ? Apa nanti saya bisa sukses ? Hal ini berlangsung sampai pada titik dimana seorang benar-benar bimbang untuk menjawab pertanyaan yang timbul dengan sendirinya. Maka dari itu untuk menjawabnya kita harus menjernihkan pikiran terlebih dahulu, beristirahat sejenak untuk mengenali apa, siapa dan bagaimana dirimu sebenarnya ? Give your best treatment in this position, karena dengan jeda tersebut kita akan mengalami proses dimana lebih menghargai dan berdamai dengan diri sendiri. Kita dapat merenungi atas apa yang telah kita perbuat selama ini, apakah itu semua berakibat baik atau buruk untuk diri kita. Karena sekecil apapun hal yang telah kita kerjakan saat ini, akan berimplikasi pada kehidupan kita di masa mendatang.

2. Merencanakan Target yang Ingin Dicapai

Tahap yang kedua setelah kita dapat mengenali jati diri, langkah selanjutnya ialah merencanakan target yang hendak dicapai. Pada tahap ini janganlah kita terbelenggu, sombong dengan gelar sarjana yang telah diraih, jangan menjadi seperti seekor burung yang baru saja lepas dari sangkarnya. Kyai Hasan pernah berpesan “Jangan tertipu! Jangan tertipu dengan ilmu-mu! Titel-mu!” Maka dari itu pada tahap ini kita harus berani merencanakan target yang ingin kita capai, semakin banyak target maka akan semakin banyak pula lingkungan yang akan kita hadapi. Tetapi jangan pernah berdalih karena merupakan seorang sarjana akan mudah melakukan semuanya. Karena menjadi seorang wisudawan tidaklah lantas menjadi suatu kebanggaan atas gelar yang telah disematkan. Ada banyak beban yang harus dipikul, terlebih amanah yang harus dipertanggung jawabkan kepada masyarakat. Pikirkan segala kemungkinan terbaik dan terburuk dari setiap rencana yang dibuat. Dengan begitu kita akan mengetahui langkah apa yang akan kita ambil selanjutnya. Sebagaimana yang saya alami, ketika setelah wisuda saya memiliki 4 planning diantaranya melanjutkan pengabdian sebagai staf di kampus, kembali mengabdi di pondok, studi lanjut dan mengajar. Keempat pilihan itu saya pikirkan baik-baik serta dengan segala kemungkinan yang akan terjadi, namun jangan sampai lupa untuk mendiskusikan semua pilihanmu dengan orang tua. Karena dengannya kita akan mendapatkan ridho kedua orang tua yang akan mempermudah kita untuk menentukan pilihan ini. Selain itu, kita juga dapat meminta saran kepada segenap dosen, sahabat, atau teman. Dengan memperbanyak wawasan akan pilihan yang ada, maka kita akan lebih mudah dalam menentukan apa yang harus kita lanjutkan. Kita harus menyiapkan sebuah kapal untuk dapat mengarungi samudra kehidupan yang luas nanti.

3. Menentukan Pilihan

Ketika semua pilihan dari target yang hendak dicapai telah rampung dikumpulkan, selanjutanya ialah tahap untuk menentukan pilihan tersebut. Pada tahap ini kamu dapat melaksanakan shalat istikharah agar diberikan jalan dan jawaban atas pilihanmu. Karena telah menyusun perencanaan sebelumnya dengan segala kemungkinan yang terjadi, maka kita tidak lagi kesulitan dalam memilih. Tentukanlah pilihanmu seperti kamu menentukan masa depanmu. Jangan pernah ragu oleh karena bisikan-bisikan yang dipenuhi kekhawatiran. Jikalau sudah menentukannya, kamu dapat mengabarkan pilihanmu kepada orang tuamu. Saya yakin karena telah mendiskusikannya di awal, maka orang tua akan menyetujui dan turut meridhoi pilihan anaknya. Hal ini seperti apa yang saya lakukan dimana ketika itu pilihan saya adalah langsung melanjutkan studi S2. Namun ketika itu perguruan tinggi yang direncanakan belum membuka pendaftaran mahasiswa baru pascasarjana. Selain itu saya juga mendapat kabar bahwa perguruan tinggi tersebut mengalami kenaikan pada biaya semesternya. Seketika hati pun terasa kaget, karena kenaikannya hampir setengah dari biaya sebelumnya. Pada saat ini, karena sebelumnya telah menyiapkan segala kemungkinan yang terjadi, baik dari segi pendaftaran yang belum dibuka dan biaya, saya memiliki persiapan untuk itu yaitu dengan mendaftar mengajar di salah satu pondok dekat perguruan tinggi yang saya rencanakan. Ketika itu saya telah menyiapkan pendaftarannya dimulai setelah selesai yudisium fakultas. Dari seleksi berkas, wawancara, microteaching  hingga seleksi tulis, Alhamdulillah saya diterima untuk mengajar bahasa Arab pada salah satu pondok di kota Batu Jawa Timur. Niat saya adalah mengajar sekaligus menunggu penantian pendaftaran mahasiswa baru dibuka. Selain perguruan tinggi dalam negeri, dalam penantian ini saya juga berkesempatan mensubmit berkas studi lanjut di salah satu universitas di Jeddah dan Brunei, serta berkesempatan untuk menjadi tutor bahasa Arab salah satu lembaga kursus di Pare. Kesempatan ini semua merupakan sebuah kemungkinan yang juga dapat teman-teman ikhtiarkan setelah wisuda nanti. Bagi teman-teman yang ingin melanjutkan studi baik di dalam maupun luar negeri dengan beasiswa, kamu memiliki memiliki peluang besar untuk meraihnya dengan mempersiapkan segala persyaratan yang ada mulai saat ini. Jikalau ingin meneruskan pengabdian di pondok atau menjadi staf di kampus, kamu dapat menghubungi biro kerjasama kampus yang telah menyiapkan belasan biro kampus serta puluhan pondok yang dengan senang hati siap menerimamu untuk melanjutkan perjuangan disana. Jangan pernah takut gagal, cobalah pasti kamu akan mengetahuinya. Terdapat banyak jalan menuju Roma, yakinlah bahwa ada banyak cara untuk menggapai tujuan yang sedang kamu impikan.

4. Berdoa, Minta Do’a dan Mendo’akan

Setelah pilihanmu bulat ditentukan, maka genapkanlah semua ikhtiarmu dengan berdo’a, minta do’a dan juga mendo’akan. Berdo’a akan semua usaha yang telah kamu lakukan, minta do’a untuk kelancaran dan hasil apa yang diusahakan, serta mendo’akan semua yang telah mengantarkanmu sehingga dapat sampai pada posisimu saat ini. Jikalau sudah ada jawaban dari pilihanmu, misal; meneruskan bekerja, mengabdi di kampus atau di pondok, maka kamu akan menerima sebuah tugas baru. Maka dari itu, dalam posisi ini saya selalu teringat pesan Ust Muhammad Wahyudi, M.Pd bahwa “Sebesar & seberat apapun amanah dan tugasmu nanti, jangan pernah lalai dan lupa terhadap mimpi-mimpi besarmu”. Dimanapun kita berada nanti, Prof Hamid selalu berpesan untuk memperluas networking serta komunikasi. Tantangan terbesar kita di luar nanti adalah harus eksis sebagai ustadz dimanapun kita berada.

“Sebesar & seberat apapun amanah dan tugasmu nanti, jangan pernah lalai dan lupa terhadap mimpi-mimpi besarmu”

Prof Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Ed, M.Phil.

Nasehat BJ Habibie untuk Para Freshgraduate

Mungkin cukup sampai disini teman-teman, semoga tips-tips di atas bermanfaat dan dapat diimplementasikan di masa transisi selama menjadi seorang fresgraduate. Tetap semangat, jangan pernah menyerah. BJ Habibie pernah mengatakan “Tidak ada gunanya anda memiliki IQ tinggi tapi pemalas, tidak memiliki disiplin forget it ! yang terpenting adalah anda bekerja keras, anda sehat mau berkorban untuk masa depan yang lebih cerah, dan anda konsisten berdisiplin”. Maka dari itu untuk sukses perlu sebuah kemauan, tujuan, ketekunan, kedisiplinan dan keisqomahan yang kuat. Berbuatlah, bekerjalah, bergeraklah meskipun terkadang salah, jangan sampai tidak berbuat, tidak bekerja, tidak bergerak karena takut salah. Bermimpilah apapun yang kamu inginkan, sebab Allah SWT tidak akan mengecewakan seseorang yang percaya pada impiannya. See you all on success.

Au: Naufal Akmal Syammary, S.Pd, Ed: Intan Fasya Zahara, S.Pd, Rev: Muhammad Wahyudi,

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on google
Share on email
Share on print

Berita Terbaru