Gizi Dalam Sejarah Peradaban Islam

Oleh: Mira Dian Naufalina, S.Gz, M.Gizi

Pengertian Ilmu Gizi

Istilah ‘gizi’ telah dipakai di Indonesia sejak tahun 1952 oleh Prof. Poerwa Soedarmo sebagai istilah terjemahan kata nutrition setelah disahkan oleh Dr. Haryati Subadio selaku Direktur Lembaga Bahasa Indonesia, Fakultas Sastra UI. Menurut Dr. Subadio, mayoritas akar bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab dan Sansekerta. Gizi berasal dari bahasa Arab al-ghidza yang berarti makanan. Definisi lengkapnya adalah bahan selain obat yang mengandung zat-zat yang berguna apabila dikonsumsi dalam tubuh (Rokom, 2012, Tim Penyusun Standar Kompetensi Nutrisionis, 2018).

Apabila kita tarik mundur ilmu gizi diakui sebagai sains pada awal abad ke-20 setelah penemuan ilmu kimia, fisiologi, penemuan vitamin, protein dan zat gizi lain yang menjadi dasar ilmu gizi. Definisi ilmu gizi pada pertengahan abad ke-20 yang terdapat pada manual pemerintah UK adalah ilmu yang mempelajari semua proses pertumbuhan, perawatan dan perbaikan dari tubuh hidup yang tergantung pada asupan makanan. Empat puluh tahun kemudian definisi ilmu gizi menjadi ‘…ilmu semua proses pertumbuhan, perawatan dan perbaikan dari tubuh hidup yang tergantung pada pencernaan makanan dan ilmu tentang makanan tersebut’. Kemudian yang digunakan dalam kegiatan akademik pengertian ilmu gizi menjadi ‘ilmu hasil interaksi antara asupan makanan, penyediaan energi dan zat gizi dan kebutuhan metabolic tubuh yang dibutuhkan untuk meningkatkan dan mempertahankan fungsinya (Gunawan, 2018; Beauman, 2005).

Pemahaman Konsep Gizi dan Asal Usul Ilmu Gizi

Dasar pemahaman konsep gizi diperkenalkan di dunia sejak zaman Hippocrates (430-330 SM), konsep bahwa makanan dan minuman dapat menjaga kesehatan dan dapat mengatasi penyakit. Istilah yang kemudian dikenal adalah medico-culinary tradition, tradisi yang fokus pada medis dan kuliner sebagai makanan dan pemenuhan gizi. kemudian dilanjutkan oleh Galen (129-200/216 M). Galen inilah orang yang dikenal sebagai asal muasal ilmu gizi dan dietetik di jazirah Arab. Namun ada yang menarik. Jauh sebelum itu pada tahun 250 SM, di Alexandria penulis dari tulisan asli klasik mengenai ilmu kedokteran telah ada namun penyelidikan tak dapat dilanjutkan dan masih menjadi misteri hingga kini (Russel, 1994; Singer, 2016).

Tulisan kedokteran di Arab dimulai pada Abad ke-88 saat dinamika pembentukan komunitas muslim pada bani Abbasiyah yang akan kita bahas setelah ini. Menurut David (1999) Wainers dalam publikasinya, di Baghdad adalah tempat dikenalkannya karya dari Hipocrates dan Galen pada masyarakat Arab. Banyak terjemahan dibuat menjelaskan tentang ilmu-ilmu Yunani, termasuk di dalamnya dilakukan oleh seorang Nestorian yaitu Hunayn ibn Ishaq (meninggal tahun 873 M) dan juga anaknya Ishaq Ibn Hunayn. Salah satu pekerja translatornya adalah seorang muslim bernama Abu Bakar Muhammad Ibn Zakariyya Al Razi (meninggal tahun 925/930 M) atau lebih dikenal sebagai Razi, seorang dokter dan filusuf dari kota Rayy, Iran. Sembari membuat karyanya sendiri dia berkontribusi dalam menerjemahkan teks-teks Yunani menjadi berbahasa Arab. Salah satu bukunya yang bertemakan gizi adalah Kitab manafi‘ al-aghdhiyya wa daf’i madarriha, ‘The book on the benefits of foodstuffs and avoidance of their harmful effects’ . Kemudian Razi dikenal sebagai dokter dan ilmuwan Muslim yang berpengaruh besar dalam perkembangan ilmu kesehatan Islam (Russel, 1994 hal 252).

Meskipun begitu, Razi mempelajari ilmu kedokteran bukan dari Hunayn Ibn Ishaq namun dari gurunya yang bernama Ali Ibnu Sahal At-Tabari (838-870M). Ia adalah seorang dokter dan filusuf Yahudi yang kemudian berpindah menjadi Islam setelah diangkat sebagai pegawai kerajaan Khalifah Abbasiyah, Al Mu’tashim (Khan, 1990; Zahoor, 1997).

Banyak kontroversi mengenai buku-buku medis Arab. Ada yang beranggapan bahwa teksnya berasal dari tulisan Galen ada pula yang menyampaikan sanggahannya termasuk Ali Ibn Abbas Al Magusi. Dia menyampaikan studinya tentang ilmu Anatomi. Dalam bahasannya yang ditulis oleh Gul Russel dalam Burnett dan Jacquart (1994) Yunani adalah negara dengan ilmu Anatomi terbaik. Namun 300 SM di Alexandria telah dijelaskan dengan baik tentang struktur mata dan hubungannya dengan otak. Dari contoh ini pernyataan mengenai peran besar Jalinus (bahasa Arab dari nama Galen) pada munculnya ilmu kedokteran Islam menjadi dipertanyakan.

Apabila kita pahami lebih jauh ke belakang, pemahaman gizi telah ada di Arab sebelum Islam datang. Dr. Muhammad Husain Mahasnah (terjemahan Muhammad Misbah, 2016) menjelaskan ada beberapa dokter semasa hidup Rasulullah SAW antara lain; Ibnu Hudzaim Al-Taimi, Al Harits bin Kaladah, Rufaidah Al Islamiyyah, dan Zaenab. Ibnu Hudzaim Al-Taimi adalah dokter pada zaman Jahiliyyah dimana melalui syair-syair terwujud pengetahuan mereka tentang dunia kedokteran. Harits bin Kaldah merupakan dokter yang terkenal dari zaman Jahilliyah hingga Islam datang. Dr. Cahya Buana (2011) menyampaikan bahwa pengobatan pada saat itu banyak mengaplikasikan konsep makanan fungsional dan herbal yang menggunakan tumbuh-tumbuhan sebagai ramuan obat. Seperti hadist yang diriwayatkan Abu Daud dalam Kitab Ikhbar Al-‘Ulama bi Akhbar Al-Hukama karya Jamaluddin Al-Qafti, sesungguhnya Sa’ad bin Abi Waqqash berkata “Ketika aku sakit, maka Rasulullah datang menjengukku. Rasulullah lalu meletakkan tangan beliau di antara dua dadaku sampai aku menemukan rasa dingin tangan beliau di kalbuku. Beliau bersabda : Kamu sedang mengalami gangguan jantung. Datanglah ke Al-Harits bin Kildah, saudara Tsaqif, sesungguhnya dia menekuni ilmu pengobatan. Perintahkan dia supaya mengambil tujuh butir kurma kering lalu menumbuknya sampai lembut berikut biji-bijinya dicampur susu atau mentega, dan perintahkan dia supaya meminumkannya kepadamu.” (Basya, 2015). Rufaidah Al-Islamiyyah adalah seorang perawat yang memberikan pengobatan bagi tentara islam. Kemudian Zainab, seorang dokter wanita dari Bani Uwad.

Setelah Islam datang, pemahaman gizi dijelaskan dalam Al-Qur’an, Hadist, Fiqih (Yurisprudensi) dan teks-teks Kedokteran Islam (Ayatollahi, 1992; Nisak, 2014). Allah SWT berfirman dalam QS. Abasa: 24-32 yang berisi perintah untuk manusia agar memperhatikan makanannya. Berbagai macam makanan juga disebutkan untuk memenuhi kebutuhan manusia seperti biji-bijian, anggur, sayur-sayuran, zaitun, kurma, kebun-kebun yang rindang, dan rerumputan. Manusia hendak memperhatikan segala nikmat makanan yang telah Allah anugerahkan (Putri, 2015). Perintah dan tauladan sesuai Al-Quran dan As-Sunnah dilakukan oleh Rasulullah salallahu’alaihi wassalam (569-632 M). Rasulullah SAW senantiasa menganjurkan kebersihan dan berwasiat untuk melakukan tindakan pencegahan. Rasulullah SAW bersabda tentang makan yang berlebih dan obesitas, “Tidaklah seorang anak Adam memenuhi bejana yang lebih buruk daripada perut” (Mahasnah, terjemahan Muhammad Misbah, 2016).

Konsep pemahaman gizi ini disebut juga spiritual nutrition. Ilmu gizi dipahami secara spiritual (Marzband, 2018).  Makanan yang halal dan thayyibah yang hendaknya dimakan (QS. An-Nahl: 114). Maknanya halal sesuai kaidah syar’iyyah dan thayyib sesuai kaidah kesehatan. Pola makan yang tidak berlebihan (dalam hal jumlah, jenis, dan waktu) seperti yang dijelaskan dalam QS. Al-A’raf: 31 dan QS. Thaha:81. “Jangan sampai terbuai hawa nafsu sehingga merugikan diri pada jangkaIpanjang.” Makanan yang telah Allah sediakan di bumi ini adalah wujud dari kekuasaan Allah SWT. Praktik dan investigasinya kemudian dilakukan oleh para dokter dan ilmuan untuk dapat menjelaskannya pada masyarakat yang lebih luas.

Perkembangan Ilmu Gizi dan Tokoh-Tokohnya

Perkembangan ilmu gizi masuk dalam perkembangan ilmu pengobatan. Para ulama Islam banyak menulis kitab yang menyampaikan bahan-bahan yang digunakan Rasulullah untuk pengobatan seperti kitab Ath-Tibb An-Nabawi karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Ilmu ini semakin luas diperhatikan pada masa dinasti Umayyah (661-750 M). Para khalifah  mendorong para dokter ke Damaskus  untuk menerjemahkan teks-teks medis ke dalam bahasa Arab, memakai jasa mereka. Bahkan Khalifah pertama Muawiyyah bin Abu Sufyan (meninggal tahun 681 M) menjadikan Ibnu Atsal menjadi dokter pribadi (Al-Jauziyah terjemahan Al-Maidani, 2018; Mahasnah, 2016).

Perkembangan ilmu gizi dan pengobatan semakin maju pada bani Abbasiyah (750-1258 M) dan menjadi cikal-bakal ilmu gizi dan pengobatan modern. Tokoh-tokoh yang termasuk di dalamnya adalah Al-Razi yang telah kita bahas sebagian sebelumnya, kemudian Ibnu Sina dan Ibnu Baitar.

Buku-buku Al-Razi mengenai gizi lainnya antara lain; Kitab Al-Hawi Fit-Tibb (An Encyclopedia of Medicine) dan Manafi Al-Aghdhiyah wa Daf’I Madhariha. Al-Razi menjelaskan cara penyembuhan obesitas dalam Kitab Al-Hawi Fit-Tibb dengan mengatur pola makan, mengonsumsi obat, pijat, hidroterapi, serta mengubah pola dan gaya hidup. Terlepas dari citra Al-Razi sebagai filusuf yang kontroversial dikalangan para pemikir muslim, sumbangsih Al-Razi sebagai ilmuan dan dokter tetap diperhitungkan (Mubarak, 2014; Hambali, 2010; Ebstein, 2013).

Generasi selanjutnya yang juga terlahir dari tanah Persia ialah Ibnu Sina atau Abu Ali Husein Ibnu Abdillah Ibnu Hasan Ibnu Ali Ibnu Sina (980-1037 M). Dia dikenal sebagai bapak kedokteran modern. Karyanya yang termahsyur yakni Kitab Al-Qanun fi Al-Tibb yang merupakan kodifikasi dari semua pemikiran medis Yunani-Arab yang diperkaya dan dimodifikasi dengan eksperimennya sendiri, dan observasi mandirinya. Kitab ini merupakan karya yang paling penting dan paling dijaga keaslian teksnya dalam bahasa Arab dan juga versi pertama berbahasa latinnya. Ibnu Sina memaparkan tujuh doktrin dalam menjaga kesehatan yang salah satunya adalah menyeleksi makanan dan minuman. Dalam Kitabnya yang dibagi menjadi 5 buku dijelaskan pada buku pertama bagian ke 3 tentang dietetik dan profilaksis. Ibnu Sina menjelaskan tentang dampak negative obesitas dan cara menghindarinya dengan rutin berolahraga dan mengurangi asupan makanan berlemak. Kontribusi Ibnu Sina didasarkan pada pemahaman yang mendalam tentang Al-Quran dan Hadist. Dia membaca dan melihat karya dan ide-ide orang sebelumnya namun tidak mengikutinya begitu saja.

Sosok selanjutnya yaitu Abu Muhammad Abdallah bin Ahmad Ibn Al-Baitar Dhiya al-Din al-Malaqi atau Ibnu Al-Baitar (1197-1248 M) yang bukan dari golongan dokter, namun menekuni dunia botani dan farmasi. Dia menulis Kitab Al -Jami fi Al-Adwiya al-Mufrada (The book of medicinal and nutritional terms) yang menjelaskan berbagai tumbuh-tumbuhan yang dikaitkan dengan ilmu pengobatan Arab. Buku ini menjelaskan 1400 jenis tumbuhan obat dan sayuran yang 200 diantaranya belum diketahui jenisnya. Kemudian Kitab Al-Mughni yang menjelaskan diantaranya 20 bab khasiat tanaman yang bermanfaat bagi tubuh manusia (Borhan et al, 2014).

Demikian diantaranya pada dokter, ilmuwan, dan pemikir yang terlibat dan berperan dalam perkembangan ilmu gizi di dunia. Banyak hal yang dapat direnungi dan dipelajari. Penulis berharap para nutritionist dan dietisien muslim di dunia, khususnya di Indonesia dapat terinspirasi dari karya dan peran para ulama terdahulu sehingga Islam kembali menjadi pengaruh yang kuat bagi dunia.

Referensi

Almatsier, Sunita. 2006. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia.

Ayatollahi SMT. 1992. Nutrition From The Point of View of Islam. Medical Journal of The Islamic Republic of Iran, 6(2): 115-122.

Basya AF. 2015. Sumbangan Keilmuan Islam pada Dunia. Hlm.366

Beauman C, et al. 2005. The New Nutrition Science. Principle, Definition and Dimentions. Public Health Nutrition 8(6A): 695-698

Borhan NA, Nor NM, Ruskam A. 2014. Ibn Al-Baitar: The Pioneer of Botanist and Pharmasist. Universiti teknologi Malaysia. http://eprints.utm.my/id/eprint/60916/1/AminuddinRuskam2014_IbnAlBaitarthePioneerofBotanist.pdf

Buana C. 2011. Simbol-Simbol Keagamaan dalam Syair Jahiliyyah. Yogyakarta: Mocopat

Ebstein M. 2013. Mysticism and Philosophy in al-Andalus: Ibn Masarra, Ibn al-ʿArabī and the Ismāʿīlī Tradition. BRILL. hlm. 41. ISBN 9789004255371.

Gunawan, B. 2018. Sejarah Ilmu Gizi. Diakses 28 April 2020. https://slideplayer.info/slide/11882392/

Hambali. 2010. Pemikiran Metafisika, Moral dan Kenabian dalam Pandangan Al-Razi. Substantia, 12(1). 365-381.

Hitti PK. History of the Arabs: from the Earliest Times to the Present. New York, Palgrave Macmillan, 2002.

Ibn Al-Baitar, Abdallah ibn Ahmad. 1200-1250. Al-jami li-mufradat al-adwiya wa al-aghdhiya. Diakses 4 April 2020 https://www.wdl.org/en/item/7466/

Khan MS. 1990. Ali Ibn Rabban At-Tabari, A Ninth Century Arab Physician, on The Ayurveda. Indian Journal of History of Science, 25;1-4.

Mahasnah MH. 2016. Pengantar Studi Sejarah Peradaban Islam. Diterjemahkan oleh Misbah M. Zirzis A (Ed). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar

Marzband R, Moallemi M, Darabinia M. 2017. Spiritual Nutrition from the Islamic Point of View. Journal of Islamic Studies and Culture, 5(2):33-39. DOI: 10.15640/jisc.v5n2a4.

Mubarak, A. 2014. Eksistensi Wahyu, Injil, dan Al-quran menurut Muhammad Ibnu Zakaria Al-Razi. Jurnal Komunikasi dan Sosial Keagamaan, 16(1): 67-80.

Nisak FS. 2014. Makanan Bermutu dalam Al-Quran (Kajian Tematik). Skripsi. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Putri FA. 2015. Kenikmaan Pangan dalam Alquran: Studi Penafsiran Surat Abasa Ayat 24-32. Skripsi. UIN Sunan Ampel Surabaya.

Rokom. 2012. Sejarah Kata “Gizi” sebagai Terjemahan dari Kata “Nutrition”. Diakses 28 April 2020. http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/blog/20120917/355526/sejarah-asal-kata-gizi-sebagai-terjemahan-dari-kata-nutrition/

Russel G. 1994. The Anatomy of The Eye in Ali Ibn Al Abbas Al Magusi: A Textbook Case dalam Constantine the African and ʻAlī Ibn Al-ʻAbbās Al-Maǧūsī: The Pantegni and Related Texts. Burnett CSF dan Jacquart D (Ed). Leiden, New York, Koln: Brill.

Singer PN. 2016. Galen. Standford Encyclopedia of Philosophy diakses 4 April 2020. https://plato.stanford.edu/entries/galen/

Tim penyusun Standar Kompetensi Nutrisionist. 2018. Standar Kompetensi Nutrisionis. Jakarta: AIPGI.

Zahoor A. 1997. Ali Ibn Rabban Al-Tabari (838-870 C.E). diakses 30 April 2020. http://www.unhas.ac.id/rhiza/arsip/saintis/tabari.html


Penulis: Mira Dian Naufalina, S.Gz, M.Gizi (Dosen Program Studi Gizi, UNIDA Gontor)
Reviewer: Hani’atul Mabruroh, M.Pd (Dosen PBA UNIDA Gontor)

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on google
Share on email
Share on print

Contoh Dokumen Esai

Berikut adalah dokumen esai salah satu mahasiswi PBA yang berhasil

Berita Terbaru