Jiddiyyah, Nasyath dan Hirsh

Halaqah Teladan ke-17, Senin, 21 Desember 2020, kita isi dengan salah satu bab di dalam buku وصايا الآباء للأبناء karya Syaikh Muhammad Syakir.

Buku ini merupakan buku yang sangat baik bagi para pencari ilmu. Baik pencari ilmu sebagai murid ataupun guru, mahasiswa ataupun dosen, santri ataupun Ustadz, dan seterusnya.

Ustadz Wahyudi, begitu sapaannya. Sebagai pensyarah, beliau menyampaikan apa yang ada di dalam buku ini, diterangkan bahwa di antara bekal utama bagi penuntut ilmu itu ada 3, yaitu: jiddiyyah (kesungguhan), nasyath (semangat), dan hirsh (tamak).

Di antara tanda seseorang memiliki jiddiyyah adalah saat ia mampu meninggalkan kebiasaan menunda bahkan mengakhirkan suatu perkerjaan. Sehingga target yang ia canangkan dapat tercapai tepat waktu.

Adapun nasyath di sini terkait dengan semangat melatih diri dengan berbagai latihan yang melelahkan untuk mencapai target yang diinginkan. Semakin banyak latihan yang dilakukan, maka akan semakin teruji nasyath seseorang.

Sedangkan hirsh adalah cinta, tamak dan gandrung ilmu (membaca, menulis, mendiskusikan, mengamalkan, dst).

Di Gontor, kita temukan tidak sedikit potret teman-teman kita dan adik-adik santri yang memiliki semangat luar biasa dalam menuntut ilmu, di antara contohnya ialah: ada santri yang saat dia belajar, dia ngantuk, kemudian dia berdiri; kemudian karena masih mengantuk, maka dia berwudlu, kemudian alhamdulilah hilang ngantuknya. Tapi meskipun ngantuknya hilang, ternyata saat ia baca buku yang sedang ia bawa, ia tidak paham apa yang ia baca, sehingga ia berusaha membuka kamus. Ternyata kamus belum mampu membantunya dalam memahami apa yang ia baca. Maka ia pun bertanya kepada Ustadz yang saat itu ada di sekitarnya, masih juga tidak paham, maka ia mengambil wudlu dan kemudian shalat 2 rakaat memohon kepada Allah untuk dimudahkan dalam memahami pelajaran, dan alhamdulillah ternyata ia paham. Hal demikian, selalu ia lakukan sepanjang masa-masa belajarnya di Gontor.

Model jiddiyyah, nasyath dan hirsh seperti ini yang mestinya kita miliki sebagai pendidik dan juga peserta didik.

Perlu diinsafi bersama, kita atau mahasiswa kita, masih kurang dalam jiddiyyah model seperti ini. Apalagi kalau sudah dihadapkan dengan tantangan berupa HP, Game, Film, dls. Maka akan semakin terasa betapa kurangnya jiddiyyah kita, illa man rahima Rabbuna. Sebenarnya tidak ada masalah dengan HP, yang menjadi masalah adalah ketidakmampuan kita dalam memprioritaskan yang mestinya menjadi prioritas. Allahu al-Musta’an. (Muhammad Sohibul Mujtaba, M.Ag/Ed: Riza N)

Baca juga artikel menarik berikut:

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on google
Share on email
Share on print

Contoh Dokumen Esai

Berikut adalah dokumen esai salah satu mahasiswi PBA yang berhasil

Berita Terbaru