Keajaiban dan Kebodohan

Halaqah kitab ayuha-l-walad untuk mengokohkan tekad di ladang jihad.

Seandainya engkau terus berjalan, maka engkau akan melihat perkara-perkara yang ajaib pada setiap tempat.

Hidup ini berisi tentang perjalanan. Siapa yang akan memulai perjalanan panjang tentu ia akan membutuhkan bekal. Ya, bekal yang cukup untuk perjalanannya. Beberapa mungkin takut akan kurangnya bekal yang ia persiapkan, namun bukankah selama perjalananpun kita bisa menambah bekal tersebut? Dengan menepi di kota kecil misalnya, mencari persediaan, atau hal lain yang memungkinkan untuk kita menambah perbekalan untuk dimiliki. Lalu mengapa harus ada rasa takut? Bila mencobanya saja belum pernah dilakukan.

Selain bekal yang kita persiapkan, kita juga butuh kesungguhan atau totalitas dalam melakukan perjalanan itu sendiri. Bukankah semua akan berjalan lancar jika kita mengusahakannya semaksimal mungkin, meski terkadang ada kerikil yang menghambat, tapi jika tidak menyerah dan putus asa akhirnya akan sampai juga?

Sekali berbuat, berbuatlah dengan kemampuan penuhmu.

Al-Ustadz Abdullah Syukri Zarkasyi.

قال ذو النون المصرى رحمه الله تعالى : إن قدرت على بذل الروح فتعال وإلا فلا تشتغل بترهات الصوفية

jikalau engkau bersedia untuk berkorban dengan jiwa dan ragamu maka teruskanlah perjalananmu. Dan apabila tidak, maka tidak perlu engkau mengikuti lorong-lorong ahli sufi”

Berikutnya merupakan salah satu dari empat nasihat yang disampaikan oleh Imam Al-Ghazali yang harus ditinggalkan diantaranya adalah:

Jangan mempermasalahkan atau mendebat sesuatu atau hal yang tidak kamu kuasai, karena kerugiannya lebih banyak dibanding manfaatnya, dan itu merupakan sumber dari munculnya akhlak-akhlak yang hina. Apabila kamu sungguh ingin mengungkapkan kebenaran, maka perdebatan itu di perbolehkan dengan dua syarat diantaranya :

  • Tidak membeda-bedakan dari mana kebenaran itu terucap, baik dari mulutmu atau orang lain.
  • Pembahasan hal tersebut lebih baik dilakukan secara diam-diam, dibandingkan didepan khalayak ramai.

Kenalilah kebenaran maka kau akan bersama orang-orang yang benar

Dan didalam poin ini terdapat faidah yang dapat kita ambil, bahwasannya orang bodoh  atau jahil merupakan salah satu dari ciri orang-orang yang sakit hatinya, dimana para ulama adalah dokternya, yang mengetahui resep untuk obat yang harus dikonsumsi oleh pasien. Dan tidak semua dokter mampu mengobati penyakit tersebut, karena mereka hanya mengobati orang yang diharapkan sembuh atau dapat diobati. Karena banyak dari orang-orang yang sakit itu ingin sembuh namun tidak mengikuti saran dari sang dokter, maka tidak ada harapan sembuh untuk mereka. Dan ketahuilah penyakit jahil ini terbagi menjadi empat, tiga diantaranya tidak dapat diobati hanya satu yang dapat diobati. Yang tidak dapat diobati diantaranya adalah:

  • Orang yang bertanya namun menimbulkan masalah karena rasa dengkinya (الحسد), rasa dengki diibaratkan sebagai api yang dengan cepat menyambar kayu bakar, maka akan terbakar habislah kebaikan yang kamu miliki karena kedengkian itu.
  • Orang yang kebodohannya berasal dari kedungu’annya (أحماق), sifat dungu termasuk yang tidak dapat diobati, bahkan Nabi Isa ‘alaihissalam berkata “aku tidak lemah dari pada menghidupkan orang yang telah mati, tetapi aku tidak akan mampu mengobati orang yang dungu”
  • Orang yang bertanya dan membutuhkan petunjuk, namun pertanyaan tersebut berasal dari perkataan ahli sufi, sehingga ia bertanya dengan karena kedangkalannya dalam memahami sesuatu. (مسترشد)

Dan satu yang dapat diobati adalah kebodohan pada seseorang yang mencari petunjuk dan mempunyai akal yang baik untuk memahami suatu masalah. Yang tidak dipengaruhi oleh hasad, marah, maupun kecintaan pada hal-hal duniawi. (مسترشدا عاقلا فاهما)

Dari hal tersebut, dapat disadari bahwa kebodohan merupakan sebuah penyakit hati, dan hanya orang-orang yang bersungguh-sungguhlah yang akan diobati oleh dokter, yaitu para ulama. Jangalah kita merasa puas dalam menuntut ilmu, bukankah hakikat penuntut ilmu adalah semakin banyak yang ia pelajari maka semakin ia sadar akan kurangnya pengetahuan yang ia pelajari. Sebagaimana pepatah yang selalu mengatakan bahwa semakin masak padi maka ia akan semakin merunduk.

Motivasi tidak selalu menjadi kunci kesuksesan, namun tantangan dan tekanan dalam hidup juga dibutuhkan agar dapat mengeluarkan seluruh potensi dan kemampuan dalam diri.

(Andi Hazrah Nurhaliza Ibrahim, PBA/5)

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on google
Share on email
Share on print

Berita Terbaru