Mahasiswi PBA Raih Nominasi Best-Actress Cultural Week

Usai memperingati Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus silam, sudah menjadi rutinitas tahunan bagi UNIDA Kampus Mantingan untuk memperingati hari sakral tersebut dengan semarak kegiatan pentas seni antar daerah. Mengingat core value yang selalu disinggung dalam miliu pendidkan universitas berbasis pesantren ini, menekankan kecakapan mahasiswa/i nya dalam empat ranah yakni olah dzikir, olah fikir, olah raga, dan olah rasa. Adalah Cultural Week selaku agenda yang diselenggarakan sebagai wadah pengembangan potensi yang ada dalam diri mahasiswi, melalui pagelaran seni budaya khas daerah dengan ragam perlombaan yang diadakan. Acara tersebut merupakan agenda tahunan kedua, sebagaimana telah diresmikan pada tahun sebelumnya.

Cultural Week sebagai Ajang Pelestarian Budaya Indonesia

Acara dimeriahkan dalam satu pekan penuh untuk menampilkan persembahan istimewa dari budaya masing-masing daerah. Hal ini didedikasikan untuk melestarikan budaya Indonesia yang patut dijaga. Juga menekankan, bahwa pesantren senantiasa mendidik santrinya untuk menjadi generasi yang JASMERAH (Jangan Melupakan Sejarah). Dimulai pada 17 Agustus 2021-22 Agustus 2021 dengan acara yang dapat diikuti secara individu maupun kelompok. Kemeriahan tersebut direpresentasikan melalui perlombaan memasak, karikatur budaya, cerita rakyat, tembang, tari-tarian serta puncak acara yang disebut sebagai Cultural Night.

Puncak agenda berlangsung spektakuler dimana seluruh civitas akademika UNIDA Gontor turut menyaksikan kemeriahan acara tersebut. Cultural Night selaku puncak dari pecan budaya ini, mempersembahkan karya terbaik dari setiap daerah juga nominasi pemenang. Penampilan malam itu, tentu sarat moral dan nilai seperti persembahan Madihin dari daerah Kalimantan, monolog yang menceritakan perjuangan Cut Nyak Dhien atas keadaan Aceh pada zamannya, Kisah Burung Cenderawasih dari Indonesia Timur dan persembahan menarik lainnya.

Cultural Week Mendidik Generasi Kratif dan Inovatif

Dalam sambutan penutupan, disinggung oleh Dekan Kuliyyatul Banaat al-Ustadz Dr Nurhadi Ikhsan MIRKH bahwa agenda ini didedikasikan untuk menumbuhkan jiwa-jiwa yang kreatif lagi inovatif. Selain itu beliau turut mengapresiasi, dibalik kesuksesan acara ini terdapat turun tangan dosen pembimbing antar konsulat yang memiliki dedikasi tinggi untuk memajukan setiap daerahnya masing-masing. Bahkan tak ayal, terdapat beberapa penampilan yang dipersembahkan oleh para dosen seperti al-Ustadzah Siti Ni’matur Rohmah, M,Pd selaku salah satu dosen PBA dalam merepresentasikan budaya Jawa Tengah juga al-Ustadz Ahmad Setiono, M.M yang membacakan geguritan tentang ‘Negeri Jenaka’ dengan penghayatan penuh.

Dalam pembacaan nominasi terbaik, syukur Alhamdulillah salah satu mahasiwi PBA Rif’atul Mahbubah (PBA/1) meraih penghargaan pemain terbaik pertama. Ia menceritakan dalam perjalanan perlombaan terdapat 3 lomba yang diikuti. Selaku perwakilan daerah Jawa Barat, ia memerankan penampilan ‘Situ Bagendit’ selaku cerita rakyat yang sangat fenomenal. Perannya dalam cerita tersebut ialah seorang nenek yang memberikan peringatan kepada sosok Nyai Endit yakni pemuka di kampung yang terkenal sangat kaya namun kikir. Ia mengingatkan Nyai Endit dengan memberi hukuman dengan tongkat yang ia tancapkan ke tanah, lantas saat ia cabut mengeluarkan air yang membuat Nyai Endit, harta, dan para pengikutnya tenggelam tak berjejak.

Program Studi Bukanlah Batasan dalam Melakukan Pergerakan

Mahasiswi yang akrab dipanggil Fa’at ini mengatakan, “Dengan peran tersebut tentunya saya berusaha maksimal persis seperti nenek-nenek mulai dari kostum, suara, hingga aksi untuk menjiwai dan terlihat nyata seperti nenek-nenek yang semestinya. Ternyata, penampilan saya justru membuat juri tercengang dan tertawa hebat dengan karakter yang saya mainkan”. Dengan itu, Rif’atul berhasil meraih nominasi aktris terbaik mengalahkan perwakilan daerah lain dalam lomba cerita rakyat. Ia juga menambahkan, banyak mendapat pengalaman dalam menjiwai scenario secara maksimal. Sesuatu tidak ada yang mustahil, bahkan anak muda dapat memerankan karakter seorang nenek meskipun sejatinya kelak akan menjadi nenek-nenek. Pengalaman ini menjadi hal yang berharga dalam ranah non-akademiknya. “Selaku mahasiswi PBA yang menekuni dan disibukkan akan keilmuan bahasa Arab tidak menutup kemungkinan saya untuk dapat mengembangkan bakat saya secara non-akademik yang mungkin tidak linear dengan prodi saya”, ujarnya.

Dengan sepenggal pengalaman salah satu teman kita, tentu semakin jelas bahwa program studi bukanlah alasan ataupun batasan untuk berkarya dan mengembangkan diri dalam ranah keilmuan yang berbeda. Sehingga, stereotip tentang PBA hanya pintar membaca kitab kuning, buku berbahasa Arab tidak dapat diterima sepenuhnya, sebab kita bahkan mampu menjadi seniman, olahragawan, jurnalis, ataupun kegiatan lain sesuai passion kita tanpa terhalang program studi yang tengah kita naungi. Dimana kemauan pasti ada jalan, dimana ada kesungguhan pasti membuahkan keberhasilan.


Au: Rif’atul Mahbubah (PBA/1), Intan Fasya Zahara (PBA/7)

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on google
Share on email
Share on print

Berita Terbaru