Mengenal Lebih Dekat BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) CILACS UII Yogyakarta

Fenomena globalisasi yang terjadi di dunia Internasional saat ini memaksa setiap pihak untuk bersaing satu dengan yang lainnya agar bisa bertahan. Termasuk di dalam bidang pendidikan yang harus tetap meningkat kualitasnya, baik itu materi yang diajarkan dan juga kualitas pendidiknya. Program Bahasa Indonesia untuk Penutus Asing (BIPA) saat ini semakin diperhitungkan kontribusinya bagi kemajuan di dunia pendidikan dan pertumbuhan ekonomi secara umum. Seperti yang kita ketahui, banyak warga negara asing yang belajar ataupun kuliah di Indonesia pada berbagai disiplin ilmu. Hal ini tentunya menjadi bukti bahwa BIPA juga menjadi daya tarik tersendiri bagi WNA yang ingin mengenal budaya dan ilmu pengetahuan di Indonesia.

Menangkap fenomena tersebut, Panitia Studi Pengayaan Lapangan (SPL) Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Semester 4 mengadakan webinar bersama Staff  BIPA CILACS UII Yogyakarta pada hari Sabtu (05/02/2022) di AULA Pascasarjana dengan tema “Pengenalan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (Peluang dan Tantangan)” dengan mengundang narasumber yang sangat luar biasa yaitu Mas Saras Bayu Jatmiko, S.Pd. Gr beliau adalah seorang penyusun buku ajar sekaligus pengajar BIPA di UII. Walaupun diadakan secara online akan tetapi penyampaian materi yang sangatlah menarik dan juga para mahasiswi sangat semangat mendengarkan.

Tentang BIPA (Bahasa Arab bagi Penutur Asing)

Kegiatan dilakukan secara online

BIPA (Bahasa Arab bagi Penutur  Asing) bertujuan untuk memperkenalkan bahasa dan budaya kepada orang asing yang tinggal di Indonesia. Program ini juga membantu calon mahasiswa asing Universitas Islam Indonesia untuk mempersiapkan diri agar dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia, baik di kelas maupun kegiatan sehari-hari. Ada dua jenis metode pengajaran yang diterapkan dalam kursus ini, yaitu metode tata bahasa-terjemahan dan metode langsung.

Perkembangan BIPA di Indonesia sangat pesat karena arus globalisasi dan ekonomi. Program BIPA ini juda diwadahi oleh forum komunikasi lembaga BIPA di Indonesia. Sebenarnya banyak mahasiswa dari berbagai luar negri yang menjadi murid di BIPA akan tetapi, karena diserasikan dengan jurusan Pendidikan Bahasa Arab maka yang akan dibahas kali ini adalah para murid-muridnya yang berasal dari Timur Tengah.

Disini beliau mewawancarai salah satu muridnya asal Yaman yaitu Ahmad Yamen, seorang mahasiswa kedokteran yang mendapat beasiswa di UII. Ahmad mengatakan bahwa globalisasi di Timur tengah tidak jauh beda dengan negara ASEAN yaitu masih belum merata ada yang cepat dan lambat. Kondisi dan situasi yang terjadi di negara asalnya yaitu 80% melek teknologi dan pernah bersosial media akan tetapi masih ada batasan dari pemerintah karena adanya peran di Yaman dan Libya. Pandangan dan tren pendidikan didaerah ini adalah banyak yang mencari beasiswa dinegri lain karena lebih murah. Indonesia menjadi salah satu negara favorit karena sangat ramah, dan baik kualitasnya untuk mahasiswa lokal dan non lokal. Kebanyakan murid yang mendaftar di BIPA adalah para mahasiswa asing yang mendapat beasiswa di Universitas di Indonesia.  

Akan tetapi sebelum menjadi murid di BIPA diwajibkan untuk mengikuti UKBI. Apa itu UKBI? UKBI adalah uji kemahiran bahasa Indonesia semacam tes toafl/ielts.Yang terdiri atas limaseksi,yaitu Seksi 1 (Mendengarkan), Seksi II (Merespon kaidah), dan Seksi III (Membaca) dalam bentuk soal pilihan ganda serta Seksi IV(Menulis) dalam bentuk presentasi tulis dan Seksi V (Berbicara) dalam bentuk presentasi lisan. Hasil UKBI peserta uji dipetakan dalam tujuh peringkat, predikat, dan rentang skor. Ketujuh predikat dapat diserangkaikan dalam satu ungkapan Isu Unggul Managitas (Istimewa, Sangat Unggul, Unggul, Madya, Semenjana, Marginal, dan Terbatas. Bagi teman-teman yang penasaran seberapa besar kemampuan berbahasa Indonesianya bisa mengikuti tesnya dilink berikut https://ukbi.kemdikbud.go.id  

Ada beberapa karakteristik pembelajar dari Timur Tengah menurut pengalaman guru-guru BIPA lainya seperti :

1) Keterbatasan pengucapan /p/g/.

2) Sering tidak sabaran.

3) Ingin cepat bisa dan sukanya yang instan.

4) Terkadang arogant dan ambis.

5) Sering terjaga sampai pagi.

6) Jarang on-time, terlebih saat kelas pagi.

7) Suka gaya hidup glamour.

8) Jarang belajar mandiri.

9) Teacher Dependent atau terlalu tergantung kepada gurunya.

10) Tidak terlalu rajin.

Kemudian terdapat pula peluang, tantangan dan strategi yang terjadi di era sekarang ini bagi para mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Arab dan Sastra Arab.

PELUANGTANTANGANSTRATEGI
Banyaknya mahasiswa asing di IndonesiaKemajuan teknologi dalam bidang pendidikanGencarkan promosi
Belum banyaknya pengajar bahasa ArabGencarnya aplikasi pengajaran bahasa asingKenali potensi diri lebih jauh
Indonesia sebagai bahasa InternasionalKurangnya kemampuanKembangkan kemampuan bahasa Arab
  Mencari pangsa pasar global

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa peluang untuk menjadi pengajar bahasa Arab sangat besar karena banyaknya mahasiswa Timur Tengah yang bersekolah di Indonesia. Akan tetapi tidak hanya lancar berbahasa Arab saja tetapi kita harus melek akan teknologi, media pembelajaran, dan juga beberapa trik-trik pengajaran lainnya agar murid tidak bosan. Caranya adalah dengan mengenali potensi diri belajar terus tentang seluk beluk bahasa arab terutama nahwu shorofnya. Dan jangan lupa untuk mempraktekkan kosakata dan idioms yang sudah kita punya dalam kehidupan sehari-hari agar tidak lupa daan hilang.

(Rika Khoiru Nisa, Galuh Rihanita, & Mellanie Agustine, /PBA 6, Rev: Muhammad Wahyudi, M.Pd)

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on google
Share on email
Share on print

Berita Terbaru