Mengutip Satu Tahun Perjuangan

UNIDA Gontor – Ahad, 21 Maret 2021 di penghujung tahun akademik 2020/2021, Prodi Pendidikan Bahasa Arab yang secara rutin mengadakan halaqah ilmiyyah lughowiyyah sebagai penutupan sekaligus sesi evaluasi bersama. Kegiatan secara resmi dihadiri seluruh mahasiswi PBA UNIDA Gontor, dosen pembimbing dan Ka Prodi PBA. Bukan hanya kegiatan sholat berjamaah ataupun penutupan halaqah, namun dalam sesi ini asatidz dan asatidzah memberikan catatan perjalanan selama satu tahun ajaran. Hal-hal yang perlu dievaluasi atau dievakuasi, menjelaskan kembali tujuan awal dari halaqah ini didirikan supaya seluruh tatanan mahasiswi paham dan bukan hanya sekedar ela-elu (ikut-ikut saja). Juga kesan pesan dari setiap angkatan dan nasehat dalam menghadapi ujian.

Tujuan utama adalah tazwiidu al-ilmi

Deskripsi singkat terkait nilai-nilai yang beliau sampaikan hanyalah bagian kecil untuk lebih mengingat petuah bijaksana para mu’allim. Sebab, nasehat yang tertutur itu letaknya di suduur (dada) dan bukan di sutuur (tulisan). Nasehat itu ada di dalam hati dan bukan hanya secara diksi, dan adanya deskripsi ini tak lain untuk lebih mengingatkan dan menjadi pilar perjuangan.

Dimulai oleh Ka Prodi PBA UNIDA Gontor beliau mengatakan kehadirannya saat ini tak lain mewakili dosen-dosen secara umum, namun waktu belum berkenan. Seperti ustadz Dedi Mulyanto, ustadz Kali Akbar, dan jajaran dosen lainnya. Kehadiran beliau saat ini tak lain atas nama prodi.  Beliau menegaskan kembali tujuan utama adanya halaqah ilmu ialah tazwiidu al-ilmi (menambah bekal materi). Al-Ilmu mina Allah wa lakinna kal wasiilah lil wusuul ila al-ilmi (Ilmu itu dari Allah, dan wujud kami disini hanyalah wasilah untuk menyampaikan ilmu Allah tersebut). Jika ada mahasiswi yang beranggapan bahwa halaqah ini tidak penting, maka bisa jadi ia tidak tau kepentingan.

Wujud kita, bagian dari do’a trimurti

Beliau juga menegaskan pencapaian-pencapaian selama satu tahun ajaran, resolusi untuk lebih maju lagi di tahun yang akan datang dan jangan mudah puas diri. Mengutip perkataan KH. Ahmad Sahal, “Mimpi dan obsesi itu harus besar dan tinggi. Boleh badan kita kecil, tetapi obsesi dan impian harus besar”. Mengaitkan dengan awal tahun berdirinya UNIDA Gontor pada 1963 dimana masih bernama IPD. UNIDA

Gontor merupakan cita-cita trimurti untuk merealisasikan universitas yang bermutu lagi berarti. Tidak lupa, beliau membesarkah hati mahasiswi yang ada di hadapannya “Tidak perlu menjadi prodi yang paling maju, tetapi menjadi prodi yang terbaik. Karena mendidik kalian semua sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami. Tidak perlu cari panggung, kalian-kita semua ada disini merupakan salah satu do’a trimurti. Mengapa demikian? Karena cita-cita beliau adalah untuk mewujudkan Universitas Islam dan pusat pengkajian bahasa al-Qur’an”.

Terkait impian, beliau mengingatkan juga jangan hanya besar harapan namun minim perjuangan. Kamu hanya butuh waktu untuk menunjukkan bahwa kamu bisa. Alih-alih memberi wejangan beliau menampilkan cuplikan audio, “Ujian yang antum lalui hanyalah ujian formalitas, setelah ujian tulis-lisan akan ada ujian yang lebih besar yaitu ujian kehidupan. Maka disiapkan, perang belum berakhir! Garis finish sudah tampak tetapi perjuangan antum belum berakhir”.

Setelah itu beliau mengingatkan istilah yang diperkenalkan KH. Syamsul Hadi Abdan dahulu dengan sedikit cerita kehidupan. Sudah menjadi adat para masyayikh kita, jika memiliki impian, beliau bertawasul. Istilah ustadz Syamsul “Apa tirakatmu untuk itu?”. Sehingga jangan hanya menuhankan IQ, karena usaha tanpa do’a sombong, dan do’a tanpa usaha bohong, maka semuanya harus seimbang dan sejajar antara ukhrawi dan duniawi.

Birrul Waalidain & Birrul Mu’allim

Poin selanjutnya tentang birrul walidain. Siapapun dapat berkarya, jangan menyalahkan keadaan antum, kuncinya hanya ada kemauan atau tidak. “Ayah ustadz nelayan, tetapi ustadz bisa memberi sambutan ketika hari lulusan. Begitupun antum, hari dimana antum diwisuda akan menjadi hal yang paling berharga bagi kedua orangtua antum! Wisuda 3,5 tahun harga mati, Tetapi bukan berarti yang wisuda 4 tahun tidak berarti, mereka juga hebat karena mampu menyelesaikan tugas akhirnya secara tepat waktu di tengah kondisi yang lagi genting. Ingat! Bagaimana orangtua antum berdarah-darah di rumah demi antum, antum harus siap juga untuk berdarah-darah dan banjir air mata!” tegasnya dalam bercerita.

Nasihatnya yang menggebu-gebu mendapatkan perhatian yang sangat intens dari seluruh mahasiswi yang menghadiri penutupan halaqah. Di pondok, dosen sebagai wali juga harus dipatuhi. Hati-hati, kalau kita salahkan dosen, berprasangka buruk (su’udzon) maka hilanglah keberkahan ilmu. Gontor mendidik, Al-adabu fauqo al-ilmi (adab di atas ilmu), sebagaimana pendidikan yang dilakukan rasul dan shahabah kita terdahulu.

Setiap cita-cita butuh perjuangan dan pengorbanan. Tidak masalah ketika melihat sebagian teman masih tersenyum, maka antum harus berjuang itu sudah bagian dari jihad. Antum harus mengenal istilah In Sobartum ‘ala al-asyaqqi qoliilan istamta’tum bi al-arwahi al-aladzzi towiilan (jika kamu bersabar sedikit atas kesulitan yang kamu rasakan, kamu akan menikmati kenikmatan dalam jangka yang lebih lama). Dunia adalah ladang untuk menggali prestasi. Antum harus ingat juga kutipan ayat yang tertulis ribuan tahun sebelum teori-teori Barat lahir. An-Naasu Niyaam. Wa mataa yastaiqidzun? indama maatuu (manusia itu sejatinya tertidur, lantas kapan mereka bangun? Yakni ketika meninggal). Hal tersebut menjadi analogi, manusia tidak akan pernah sadar sebelum ia terjatuh. Sehingga, semakin besar prestasi  maka ibadah juga harus semakin diperkuat.

Resolusi PBA yang akan datang

Di akhir kutipannya, beliau mengingatkan, “Jika antum ada yang merasa belum serius selama perkuliahan maka balas dendam terbaik adalah dengan UAS. Menjawab UAS dengan serius adalah bukti ihtiroom (hormat) kepada dosen.” Di penghujung kalimat, beliau menginfokan rancangan kegiatan prodi kedepannya. “In syaaAllah, dua pekan sekali akan diadakan karantina tahfidz, sehingga lulusan PBA mendapatkan jaminan lebih untuk dapat taqarrub pada al-Qur’an. Setiap mahasiswi nantinya akan memiliki muhafidz. Sedangkan untuk kajian wasoya diberdayakan tematik per angkatan untuk memastikan pemahaman mahasiswa secara masif, dan kajian wasoya bersama Ka Prodi hanya akan diberdayakan berkala pada satu hari untuk pertemuan jama’i,” jelasnya.

Kutipan singkat selanjutnya disambung oleh al-Ustadzah Siti Ni’maturrohmah, M.Pd tentang membantu prodi. Membantu prodi dengan musyarakaah (partisipasi) itu sudah membantu ustadz-ustadzah. Menjadi best of better version dimulai dari diri sendiri, pembimbing selalu terbuka. Penghujung tahun selalu identik dengan evaluasi untuk resolusi, sehingga sudahkah cukup bekal yang kalian genggam untuk kembali ke masyarakat? Menjadi versi yang lebih baik itu sudah membantu prodi. “Ustadzah sangat senang dengan orang yang mau mencoba. Mengajukan diri dan bilang ustadzah saya mau ikut tetapi belum bisa apa-apa,” ungkap beliau. Yang mahal dari hal tersebut adalah kemauan. Setiap orang mungkin memiliki kemauan, namun besarnya saja yang membedakan. Sedangkan al-Ustadzah Astuti Syifaurrahmah, M.Pd juga mengingatkan wujud PBA sebagai uswah. Bahasa Arab kita sudah menurun, kalau bukan kita siapa lagi yang memperjuangkan.

Yang mahal itu kemauan, setiap orang memang memiliki kemauan namun besarnya saja yang membedakan! Be best of better version dimulai dari diri sendiri hal itu sudah membantu prodi!

Al-Ustadzah Siti Ni’maturrohmah, M.Pd

Ditutup dengan do’a oleh Ka Prodi PBA, akhirul kalam beliau memberi closing statement “Allah menunjukkan kita orang baik tak lain untuk menjadikan kita baik juga. Jangan hanya pandai mengapresiasi orang lain, tetapi juga mengapresiasi diri, mulai unjuk diri. Buktikan bahwa antum juga punya potensi lagi prestasi. Hal ini menjadi wasilah untuk menjadikan antum mahasiswi yang berarti lagi bermutu. Jika air mata dan darah lebih banyak dari air liur tandanya antunna mujaahidah.” kutipan ini justru menyayat dan juga penyemangat.

Bersyukurlah berada dalam lingkungan yang penuh militansi

Untuk menutup ulasan ini, hendaknya kita senantiasa bersyukur. Memiliki guru-guru yang sangat militan dalam memperjuangkan nilai keilmuan, yang sangat peduli pada nilai pengembangan. Jika guru-guru sudah bersemangat dan kita menolak menerima hikmat itu sangatlah keterlaluan. Hendaknya kita saling mengingatkan, sebagai penuntut ilmu mutlaknya haus ilmu, dan wujud halaqoh serta  program non-akademik yang diadakan PBA sangatlah membantu dalam menunjang bekal mengabdi kita kelak. Jika kita belum merasa baik saat ini, waktu belum berhenti. Kesempatan masih terbentang luas, peluang masih dapat diretas. Karena kita saat ini adalah akumulasi dari perjuangan di hari kemarin, dan apa yang kita perbuat saat ini sangat menentukan bagaimana perkembangan di masa depan. Hal itu dapat didukung dengan bergaul bersama circle yang positif, meminta bimbingan pada guru alih-alih kehilangan arah, bertawakal pada Allah, bersaing dengan waktu serta resolusi lainnya. Sehingga, in ahsantum fa ahsantum li anfusikum wa in asa’tum fa laha (Jika kamu baik maka kamu telah baik untuk dirimu sendiri, dan sebaliknya jika kamu berlaku buruk kamu juga telah berlaku buruk untuk dirimu sendiri)

Jika air mata, keringat dan darah lebih banyak keluar daripada air liurmu itu tandanya antunna mujahidaat.

Al-Ustadz Muhammad Wahyudi, M.Pd

[Au. Intan Fasya ,Mahasiswi PBA Semester 6/Ed. Riza N]

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on google
Share on email
Share on print

Contoh Dokumen Esai

Berikut adalah dokumen esai salah satu mahasiswi PBA yang berhasil

Berita Terbaru