Menjadi Hafidzoh dalam Memperjuangkan Hafalan

Arti “Hafidzoh

Kata hafidzoh merupakan ism faa’il dari kata kerja hafidho-yahfadhu dalam dhomiir muannats (feminim) yang berarti menghafal. Makna semantik bahasa Arab yang sangat kaya akan kosakata membuat satu kata memiliki ragam makna. Dapat pula diartikan sebagai menjaga. Makna kata diartikan menjaga apabila disandingkan pada makhluk, sedangkan jika disandingkan pada Allah maka beralih makna menjadi menjaga; menjaga dari tabdil (penggantian), tahrif (penyelewengan), dan taghyiir (pergantian).

Tidak sedikit ditemukan salah pemaknaan akan kata ‘hafidzoh’, sebagian manusia berlomba-lomba untuk menjadi  hafidzoh, bukan untuk memuliakan kalamullah namun hanya sebatas menyandang  gelar tersebut. Pasalnya, jika ditelaah lebih dalam hafidzoh bukanlah suatu nisbat untuk sekedar pamrih kebanggaan tetapi lebih dari sekedar amanat akan banyaknya hafalan. Mutlaknya, hafidzoh menjadikan setiap penghafal juga sebagai penjaga ayatullah. Untuk mampu menghafalkan baris demi baris ayatnya, juga mengamalkan kebajikan demi kebajikan dalam pemaknaannya.

Tahfidz al-Qur’an, Salah Satu Visi UNIDA Gontor

Konon, menghafal menjadi budaya yang lebih diagungkan daripada menulis pada masa Arab. Kendati demikian, karena kabilah Arab kuno cenderung terbiasa menghafal syair-syair, lebih-lebih mereka mewarisi  daya ingat yang tajam. Menghafal Al-Qur’an juga mendapat jaminan Allah sebagaimana firman-Nya “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami yang benar-benar memeliharanya” (QS. Al-Hijr: 9). Hingga terwariskan pada masa khalifah maupun di  era modern saat ini.

Menjadi kalimat pembuka akan pentingnya pemaknaan hafidz secara masif. Universitas Darussalam Gontor selaku lembaga pendidikan berbasis  pesantren turut menggaungkan budaya Qur’ani sebagaimana visi  besarnya menjadi pusat pembelajaran Islam dan bahasa Al-Qur’an. Dengan adanya beberapa komunitas seperti markaz Islamisasi, markaz Siroh Nabawiyah bahkan markaz Al-Qur’an dan Zona Tahfidz. Selain itu segala keberlangsungan kegiatan selalu mengandung esensi olah raga, olah fikir, olah dzikir, dan olah rasa.

Apa kata mereka tentang Tahfidz al-Qur’an?

Bulan lalu, agenda Wisuda Tahfidz menjadi motivasi pribadi dalam menumbuhkan semangat dalam memperbaiki diri dan mendekatkan diri pada Allah. Beberapa mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa Arab turut berkontribusi dalam wisuda tahfidz 5 juz maupun 10 juz. Beberapa perwakilan mengungkapkan tentang tips, motivasi, hingga gigih juang dalam menjaga Al-Qur’an dan mengingatnya.

1. Doa dan ridho orang tua

Riska Nur Oktafia (PBA/4) selaku ketua II Zona Tahfdiz juga salah satu perwakilan PBA dalam wisuda tahfidz 5 juz mengungkapkan wujud syukurnya, “Alhamdulillah, dulu selalu pengen, mbatin dalam hati semoga suatu saat bisa berkesempatan ada di panggung kehormatan. Qodarullah, saya berada di panggung kehormatan dalam wisuda tahfidz. Dengan melewati penyeleksian yang ketat, menyisihkan 100 pendaftar, bahkan saya sempat sakit sebelum hari-H. Hingga diumumkan beberapa mahasiswi yang lolos hingga babak akhir. Perjuangan yang masha allah, dan mendapatkan rezeki dengan tunjangan pembebasan uang makan bulanan selama satu semester yang diumumkan Dekan Kuliyyatul Banaat.”

Riska turut mengungkapkan, semua juga tidak luput dari ridho orangtua. Ia seringkali meminta doa restu pada orangtua setiap kali acara. Selain itu, adab menghafal Al-Qur’an juga harus diperhatikan.

2. Menjaga hafalan, menjaga ketetapan syariat

Hafalan bukan hanya tentang mengingat ayatullah, namun menjaganya (muroja’ah sepanjang masa), menerapkannya, bahkan adab-adab sesuai tuntunan syariah yang harus diperhatikan. Karena yang dicari adalah esensi keberkahan. Ada permisalan, seseorang terlihat khusyu’ menghafal Al-Qur’an ditengah-tengah ustadz berkhutbah. Keduanya merupakan hal baik, namun hendaknya orang tersebut menghormati adab dalam majlis. Ia juga menjelaskan pentingnya menjaga muamalah kepada sesama yang turut berpengaruh dalam membangkitkan iman dalam diri.

3. Waktu yang baik dalam menjaga hafalan

Selebihnya, Riska menambahkan tentang saat-saat yang tepat untuk ziyadah maupun muroja’ah. Pagi hari setelah sholat Shubuh hingga pukul 6.00 ialah waktu yang tepat dan fresh untuk menambah hafalan Al-Qur’an sekaligus mengikuti halaqoh yang diadakan setiap pagi bagi anggota Zona Tahfidz. Selain itu, waktu yang efisien ialah usai sholat fardhu yang 5, terkhusus setelah Maghrib dapat dimanfaatkan sebagai ziyadah maupun muroja’ah. Sore hari ialah waktu untuk mempersiapkan ayat yang akan disetor pada muhaffidz (penyimak hafalan) di malam hari. Dan, pada malam hari ialah waktu untuk muroja’ah ayat-ayat yang sudah dihafal dalam satu hari ini serta persiapan akan ayat yang akan dihafalkan pada esok hari.

Ia menambahkan, Al-Qur’an itu milik Allah, dan sangat mudah bagi-Nya untuk mengehendaki siapa diantara kita yang pantas menjaga dan menghafal kalam-Nya. Bukan kepada mereka yang pintar atau mampu, namun bagi mereka yang gigih dan Allah kehendaki untuk mewariskan kebaikan. Memasuki Zona Tahfidz semenjak pada akhir semester 2, ia menuturkan banyak sekali hikmah yang dirasakan, bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia, hudaa linnasi.

4. Suatu kesyukuran berada di lingkungan zona al-Qur’an

Sejalan dengan ungkapan Nur Fera Khalifah (PBA 4), tentang motif kebanyakan seseorang yang ingin menjadi hafidzoh. Ia ingin membanggakan kedua orang tuanya, memberikannya mahkota di akhirat kelak seperti yang disinggung dalam al-hadits. Supaya bukan sekedar hadits, maka ia ingin membuktikan, ber-istiqomah, karena menyandarkan segala sesuatu pada Allah tidak akan pernah membawa manusia pada kekecewaan. Bahkan, segala kalam Allah tidak pernah buaian semata, Al-Qur’an yang akan menolong kita ketika tidak ada satupun pertolongan fi yaumil hisaab. “Maka adanya lingkungan yang mendukung, benar-benar harus saya manfaatkan, alhamdulillah di UNIDA Gontor ada zona khusus yang memperhatikan hafalan dan tahsin Al-Qur’an”, ungkapnya, sebagai kesyukuran mampu menjadi bagian dari anggota Zona Tahfidz. Selebihnya, semua hanya tentang keberkahan hidup, antara Al-Qur’an, Allah dan manusia yang berusaha.

5. Menjaga hafalan, bukan hanya sebatas menjaga secara lafdziyyah

Ghozlia Qotrunnada (PBA 8) sebagai perwakilan wisuda tahfidz 10 juz menambahkan, terkait do’a khatmil Al-Qur’an yang selama ini masih salah kita tuturkan, “Kita cenderung melantukan Allahumma dzakkirna min huma nasiina wa alimna min huma jahilna padahal kalimat yang seharusnya kita lantunkan adalah Allahumma dzakirna min huma nusiina wa allimna min humaa jahilna. Sebab, kita lupa akan ayat yang kita hafal bukan karena kita sengaja ingin melupakan, namun ada takdir Allah, keinginan Allah sebagai tanbiih sehingga kita lupa akan ayat yang dihafal. Allah-lah yang menghendaki kita mampu menghafal dan menjaganya atau tidak. Menjaga dengan amalan sholih, bukan hanya sebatas menjaga secara lafdziyyah. Sehingga hafidzoh itu  adalah amanah dari Allah sepanjang masa yang harus kita jaga. Ia turut menuturkan, tentang latar belakang dirinnya yang murni belum memiliki hafalan sebelum masuk UNIDA, dan benar-benar memulai di Zona Tahfidz. Semua kembali pada kehendak Allah dan tawakkal diri. Sehingga, siapapun tidak dipungkiri dapat menghafal ayatullah dengan taufik dari-Nya.

Dengan itu, melihat kontribusi teman-teman PBA dalam Zona Al-Qur’an menjadi motivasi internal bagi diri kita sendiri. Perintah agama untuk memperhatikan dalam memilih teman yang baik benar adanya. Teman yang baik akan menuntun kita pada kebaikan juga. Selain itu, ungkapan teman-teman Zona Tahfidz turut mengajak kita untuk lebih taqarrub kepada Allah. Sebab, jika kita telah berpaling dari Sang Pencipta dan Al-Qur’an kepada siapa lagi kita akan meminta pertolongan? Semoga kita tergolong sebagai golongan yang mendapat syafaatnya di yaumil akhir, amiin.

Author: Intan Fasya
Editor: Riza N

“Al-Qur’an itu seperti utusan yang hidup, kamu bertanya, ia menjawab, kamu mendengarkan ia memberimu kepuasan.”

Al-Ghazali

Baca artikel menarik lainnya tentang al-Qur’an:

Zona Tahfidz Menjadi Salah Satu Kebanggaan Mahasiswi

Pengarahan Ujian Hifdzil Qur’an; al-Qur’an sangat berpengaruh terhadap kepribadian seseorang

Pengaruh Al-Qur’an dalam Gambaran Perilaku Tumbuhan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on google
Share on email
Share on print

Contoh Dokumen Esai

Berikut adalah dokumen esai salah satu mahasiswi PBA yang berhasil

Berita Terbaru