Menjadi Mahasiswi Akhir, Bukan Berarti Aktifitas Berakhir

Lomba Desain Cover WARDUN guna Menggali Ide Santri

Penghujung Maret (28/03/21) menjadi momen yang bahagia bagi Faricha Nailun, mahasiswi akhir Prodi PBA. Siang, satu hari menjelang sidang skripsi, pada waktu yang bertepatan ia dinobatkan menjadi pemenang lomba desain cover WARDUN (Warta Dunia) yang diadakan oleh tim  WARDUN Pondok Modern Darussalam Gontor berdasarkan hasil musyawarah pimpinan pondok serta segenap Tim Redaksi. Perlombaan secara daring ini ternyata telah berlangsung lama semenjak awal Januari 2021 dengan akhir submisi karya pada 15 Januari  2021.

WARDUN yang telah beroperasi sejak 1939 merupakan majalah tahunan yang menggambarkan aktifitas keseharian PMDG selama satu tahun ajaran juga sebagai laporan pimpinan pondok kepada umat Islam seluruh dunia. Setelah lama berkiprah dan menaungi masyarakat, dengan surat kabarnya yang informatif, maka pada tahun ini Tim Redaksi menginisiasikan ‘Lomba Desain Sampul Warta Dunia Pondok Modern Darussalam Gontor’. Kompetisi ini bertujuan untuk mendidik para santri agar dapat memunculkan ide-ide baru dalam karya desain grafis. Tim Redaksi  memberi kesempatan kepada seluruh Keluarga Besar Pondok Modern Darussalam Gontor untuk terlibat secara langsung, berkontribusi lagi berpartisipasi dalam penerbitan WARDUN Vol.74 tahun 1442/2021.

Sudah menjadi kesyukuran bagi mahasiswa PBA, bahwa seluruh dosen pembimbing termasuk Ka Prodi PBA turut mendukung budaya militansi keilmuan. Sebagaimana diungkapkan  Faricha bahwa ia mendapatkan informasi perlombaan ini melalui Al-Ustadz Muhammad Wahyudi,M.Pd selaku Ka Prodi PBA. Tak  luput, beliau juga selalu memberikan motivasi bukan hanya  terhenti pada kegiatan keprodian, bahkan di luar jam perkuliahan tidak pernah habis inspirasi yang tertutur dari sosok tersebut. Setelah mendapat informasi tersebut, lantas memahami ketentuan perlombaan berupa santri/wati, asatidz dan mahasiswa/i aktif di seluruh Pondok Modern Darussalam Gontor, membuat desain sesuai ukuran yang ditentukan yakni sisi depan 21.5 cm x 30 cm, sisi samping 2 cm x 30 cm, dan sisi belakang 21.5 cm x 30 cm. Desain yang dibuat juga dianjurkan menggunakan aplikasi Corel Draw, Adobe Illustrator, Adobe Photoshop atau  sejenisnya. Peserta juga diperbolehkan untuk mengirimkan desain cover dalam jumlah yang tidak ditentukan, sebagaimana Faricha yang mengirimkan 3 desain cover setelah menimbang pendapat pembimbing selaku kultur Gontor.

Juara 1 Lomba Desain Cover, Hasil dari segala Perjuangan

Waktu antara penjurian dan pengumuman yang terlampau lama, akhirnya setelah sekian lama, pengumuman pemenang diinfokan. Syukur alhamdulillah, Faricha selaku perwakilan dari mahasiswi UNIDA Gontor khususnya PBA berhasil menempati posisi pertama diantara banyak partisipan Keluarga Besar Pondok Modern Darussalam Gontor. Faricha mengatakan, ‘Jujur, saya tidak pernah sekalipun ada ekspetasi menjadi pemenang karena desain yang saya kirim tergolong sederhana dan tidak terkonsep sama sekali’. Desain tersebut adalah desain ketiga yang diajukan, berbeda dengan dua desain sebelumnya yang telah matang konsep, namun desain yang ia katakan tak berkonsep inilah justru diterima dan dijjadikan cover WARDUN untuk tahun ini. Diluar praduga, ia senantiasa bersyukur lagi bersyukur dan mengingat nasehat Al Ustadz Wahyudi, ‘Juhuuduki lebih besar dari ekspetasi anti’ diamini dengan pernyataan Faricha ‘Disini ana banyak belajar, bukan hanya  juhuud desain, tapi banyak juhuud lain yang mungkin nggak ana sadari. Do’a, istiqomah, kesabaran, keuletan, harapan, semua tak ada yang tau selain Allah SWT’.

Ungkapnya lebih lanjut, ia selalu mengingat pesan beliau
حقائق اليوم أحلام الأمس، و حقائق الغد أحلام اليوم
Apa yang terjadi hari ini adalah mimpi di masa lalu, dan apa yang terjadi di masa depan adalah mimpi hari ini. Tiada usaha yang sia-sia, karena hasil tak akan pernah mengkhianati usaha. Jadi, ketika kamu tertarik akan suatu hal, jalani, dalami, tekuni, sampai kamu benar-benar ahli didalamnya, dan jangan lupa syukuri! Karena kita tidak pernah tau rahasia semesta, kita harus tau bagaimana seni  tinggal di kerajaan-Nya. Dengan itu ia sangat berterimakasih, kepada Ka Prodi sekaligus DPA (Dosen Pembimbing Akademik) yang sangat menaungi mahasiswa/i nya dengan energi-energi positif untuk terus improvisasi diri, potensi diri, doa, dukungan juga bimbingannya, tak luput amanat editing dari beliau yang justru memberikan ibrah,لا كلمة ألقيها إلاّ كلمة الشكر (tidak ada yang dapat saya ungkapkan kecuali kesyukuran).

Apa yang terjadi hari ini adalah mimpi di masa lalu, dan apa yang terjadi di masa depan adalah mimpi hari ini. Tiada usaha yang sia-sia, karena hasil tak akan pernah mengkhianati usaha.

Al-Ustadz Muhammad Wahyudi, M.Pd

Usia Bukan Batasan untuk Berkarya

Berkaca pada kisah Faricha, usia bukanlah batasan untuk berkarya. Menjadi mahasiswi akhir bukan berarti segala aktifitas-produktifitas stop organisir. Mutlak, menjadi mahasiswa adalah waktu yang paling tepat dan sangat tepat untuk senantiasa berkarya lagi menggali potensi dan prestasi.  Hal ini mampu menjadi batu  loncatan lagi kaca perbandingan bagi teman-teman PBA sekalian di lintas semester, jika kita yang lebih muda saja belum mampu berkarya dengan seabrek alasan yang dikemukakan, harusnya malu. Karena, mahasiswa akhir yang dominan dengan tugas wajib akhir saja mampu dan masih bisa berkarya alih-alih kesibukannya. Mengutip moto pembangkit semangat Faricha yang masih bersinergi untuk bergerak aktif, ‘Kalo ada kesempatan kenapa nggak dimanfaatkan? Kalo nggak sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi?’.

Kita juga harus bersyukur hidup dalam naungan militansi keilmuan di atap PBA, teman-teman yang aktif, guru yang suportif, dan satu kunci lagi adalah diri kita, bagaimana kemauan kontributif supaya produktif? Kendati demikian, supaya tonggak perkembangan PBA tetap eksistensi. Pencapaian Faricha juga menjadi bukti, bahwa prodi tidak menghalangi langkah untuk menggali potensi. Sekalipun prodi PBA, tetapi kita juga dituntut untuk serba bisa dan mengembangkan diri untuk senantiasa bisa. Entah dalam desain grafis, menyanyi, karya tulis, debat, dance serta minat bakat lainnya. Passion is energy, feel the power that comes from focusing on what excites you! Find you passion, and be the outstanding generation!

‘Kalo ada kesempatan kenapa nggak dimanfaatkan? Kalo nggak sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi?’

Faricha Nailun

Au : Intan F -(Mahasiswi PBA/6) Informan : Faricha Nailun (Mahasiswi PBA/8)

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on google
Share on email
Share on print

Contoh Dokumen Esai

Berikut adalah dokumen esai salah satu mahasiswi PBA yang berhasil

Berita Terbaru