Menjadi Pendidik Teladan

Senin, 30 November 2020. Kantor KBIH di pojok Masjid UNIDA Gontor, Halaqah Teladan Pekanan ke-XV disampaikan oleh al-Ustadz Azhar Amir Zaen, M.Ed., dosen Prodi PBA dan alumni double master dari Universitas di Sudan tersebut, mambawakan kajian dengan judul “Menjadi Pendidik Teladan”. Halaqah Teladan adalah halaqah pekanan dosen UNIDA Gontor dari alumni KMI Gontor tahun 2009 *(Paragon Generation). Ust. Azhar yang juga mendapatkan amanah sebagai wakil bagian kemahasiswaan prodi PBA mengawali materi dengan pendidik ideal standar Gontor, menurut Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A. rahimahullah paling tidak memiliki 5 kemauan dan kemampuan:

  1. Berfikir keras
  2. Bekerja keras
  3. Berdoa keras
  4. Ibadah keras
  5. Istirahat keras (tambahan dari KH.Hasan Abdullah Sahal)

Kemudian, pemateri menegaskan bahwa pendidikan di Gontor lebih memilih ungkapan ‘Talk more do more’ daripada ‘Talk less do more’. Karena memang untuk menanamkan suatu nilai, atau ajaran perlu ‘ping sewu’. Ping sewu dalam pengarahan dan ping sewu dalam penugasan.

Dalam proses mendidik, seorang aktor pendidik (alumni Gontor) perlu memperhatikan langkah-langkah proses berikut:

  1. Pengajaran
  2. Pembentukan
  3. Pembiasaan
  4. Penugasan
  5. Pengarahan
  6. Uswatun Hasanah
  7. Pengawalan

Dalam hal mendidik dengan pengawalan, Kyai Syukri mengajarkan kepada kita beberapa model pendekatan, yang di antaranya adalah:

  1. Pendekatan ideologi (menanamkan nilai-nilai perjuangan, keikhlasan, dst)
  2. Pendekatan personal (mendoakannya, mentraktir, tahu seluk-beluk keluarga peserta didik, dst)
  3. Pendekatan program (diberikan porgram-program yang bisa meningkatkan sif dan hard skil peserta didik)
  4. Pendekatan disiplin (diberikan tata tertib, baik yang tertulisa ataupun yang tidak)

Selain hal-hal di atas, pemateri menyampaikan bahwa sebenarnya ada hal-hal lain yang itu bisa mendukung kesuksesan kita dalam proses mendidik. Hal-hal tersebut ia ambil dari pengalaman menjadi mahasiswa di negara Sudan. Ia menyatakan bahwa mayoritas profil guru di Sudan memiliki beberapa karakter berikut:

  1. Sabar: Bercermin dari kondisi sudan yang serba susah meraka terbiasa mengatakan: “Khair in sha Allah” dalam berbagai kondisi..
  2. Tawadlu’ dan Dermawan: Di Sudan beberapa guru menggunakan istilah ‘al-Faqir’ saat menyebut dirinya. Banyak dari mereka juga tidak mau mendapat fasilitas dari muridnya. Malah yang banyak, guru di Sudan memberi santunan kepada para muridnya. Bukan hanya ilmu yang mereka berikan, namun juga harta.
  3. Ruh belajar: Di kalangan kita ini, sebagai pendidik kadang lebih disibukkan dengan masalah-masalah administrasi. Sehingga tidak jarang melalaikan kita tafaqquf fiddin, intens membaca karya-karya ulama kita. Karenanya, jangan sampai hal-hal administratif menjadikan kita lalai dalam tafaqquf fiddin. Wa Allahu A’lam.
    (Rep:MS Mujtaba, M.Ag/ Edited by: Muhammad Wahyudi)
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on google
Share on email
Share on print

Contoh Dokumen Esai

Berikut adalah dokumen esai salah satu mahasiswi PBA yang berhasil

Berita Terbaru