Mungkinkah Menguasai Banyak Bahasa?

Terdapat beberapa orang yang memiliki kemampuan menguasai banyak bahasa seperti halnya Ir. Soekarno yang pandai 10 bahasa, J.R.R Tolkien pandai 18 bahasa, dan Nikola Tesla pandai 8 Bahasa. Salah satu kelebihan yang dapat diambil adalah kita bisa melihat film, drama Barat, Korea, China, dan lain-lain tanpa harus melihat subtitlenya. Namun, terkadang kita terhalang dalam belajar bahasa karena mitos-mitos yang beredar di masyarakat. Misalnya, belajar bahasa itu akan jauh lebih mudah ketika masih bayi, belajar bahasa ketika dewasa itu sudah tergolong telat. Apakah statement itu benar? Tentu saja tidak.

Belajar Bahasa Ketika Dewasa?

Berdasarkan fakta yang ada, mereka yang memiliki kemampuan berbahasa lebih dari satu, memulai belajar ketika telah memasuki usia dewasa. Contohnya Gabriel Wyner yang pandai 7 bahasa mulai belajar bahasa saat kuliah. Shannon Kennedy yang pandai 9 bahasa mulai belajar bahasa saat mengejar S2. Memang bayi jauh lebih mahir dalam belajar bahasa karena otak mereka masih fleksibel (neoroplasticity), tetapi berbeda dengan bayi, kita jauh lebih tahu bagaimana cara belajar.

Trik Pandai Bahasa

Lalu bagaimana caranya supaya bisa pandai banyak bahasa? Cara yang pertama adalah niat dan kemauan yang keras karena dengan begitu kita akan selalu merasa curious dan terdorong untuk menguasai bahasa yang ingin dipelajari. Kedua adalah rajin, seperti otot, otak akan semakin kuat jika sering latihan. Latihan dengan orang akan sangat membantu dalam proses pembelajaran bahasa. Berbicara dengan bahasa asing jauh lebih efektif daripada membicarakan bahasa asing. Karena bahasa tidak disimpan dalam satu tempat saja, tapi menyebar ke berbagai bagian otak.

Jika bahasa sering dipakai di berbagai situasi, otak kita akan lebih terbiasa dengan bahasa baru. Selain rajin, yang ketiga kita perlu menempatkan bahasa dalam ingatan dan pengalaman. Misalnya ketika kesusahan dalam mengahafal kosa kata, lalu kita mengingat hal lucu atau pengalaman yang menyenangkan, atau bahkan memalukan. Hal tersebut tidak masalah karena semakin banyak kesalahan yang kita perbuat, semakin banyak juga yang kita ingat. Keempat adalah perbanyak kosa kata, mencatat merupakan cara yang ampuh untuk menghilangkan rasa penasaran dengan kosa kata yang belum dimengerti. Kelima adalah mempelajari Ilmu bahasa, memperbanyak kosa kata saja tidak cukup tanpa mengetahui tatanan bahasa. Tatanan bahasa seperti grammar untuk bahasa Inggris dan Nahwu, Shorof untuk bahasa Arab. Pengalaman tersebut akan membuat kita minder dan takut mengulang kesalahan untuk yang kedua kalinya. Dalam alam pendidikan Gontor, salah dalam berbahasa adalah hal yang biasa. Pada intinya percaya diri, tidak perlu malu, dan risau karena akan ada yang membenarkan kita jika salah.

Kita harus mengubah cara pandang kita tentang bahasa. Bahasa bukanlah suatu seni yang harus kita pelajari, tapi sebuah alat yang harus kita pakai untuk berkomunikasi. Akan menjadi sia-sia jika kita pandai berbahasa tapi yang kita ajak berkomunikasi tidak mengerti. Pandai banyak bahasa memang banyak keuntungannya, selain untuk berkomunikasi, dapat membuat kita pandai multitasking bahkan dapat menunda penyakit otak yaitu Alzheimer. Tentunya bahasa kita akan menjadi jendela kita belajar budaya dunia.

Sumber: (https://www.youtube.com/watch?v=YK0pAz4N-YY) (https://www.youtube.com/watch?v=zqMjNtaoBmo)

(Nurjanah Pujirahayu/ PBA 1) (Ed: Nur Fera Khalifah /PBA 5)

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on google
Share on email
Share on print

Berita Terbaru