Pelatihan Debat Bahasa Arab Sistem Qatar Melalui KKN Tematik

UNIDA Gontor – Pandemi yang merubah seluruh tatanan masyarakat rupanya tidak mempengaruhi berjalannya  kegiatan akademik-non akademik di Gontor. Meskipun pemerintah menetapkan kebijakan-kebijakan guna memutus rantai penyebaran covid-19 sehingga membuat beberapa instansi terpaksa menutup sekolah-sekolah secara off-line dan mengalihkannya pada sistem online. Berbeda dengan Pondok Gontor, hal serupa tidak berlaku justru kegiatan demi kegiatan tetap berlangsung dengan catatan tetap melaksanakan prosedur kesehatan yang digaungkan pemerintah.

Termasuk kegiatan yang berlangsung di UNIDA Gontor, sebagaimana pondok tidak pernah tidur, maka adanya pandemi bukanlah alasan untuk menghentikan seluruh kegiatan. April 2020, UNIDA Gontor secara serentak kembali mengadakan KKN (Kuliah Kerja Nyata) bagi mahasiswa/i semester 6 dengan persyaratan mendasar 102 SKS secara minimum. Meskipun tetap dilaksanakan, KKN tahun ini tentu memiliki beberapa perbedaan termasuk dalam segi penerapan. KKN yang diberdayakan yakni mengusung sistem KKN Tematik dengan menggunakan lingkungan kampus sebagai masyarakat yang mendapat perlakuan pemberdayaan masyarakat. Dengan masyarakat kampus menjadi objek utama KKN tematik tahun ini.

Secara khusus, KKN tematik dilaksanakan dalam tiga tahapan yakni tahap rancangan, tahap pelaksanaan, dan tahap laporan. Selama 3 pekan, pada minggu pertama kelompok 66 memfokuskan kegiatan pada sesi rancangan program seperti penyusunan handbook selaku luaran yang ditentukan juga sosialisasi pra-pelaksanaan terhadap mitra. Penyusunan handbook bermasdar pada buku pedoman Debat Bahasa  Arab Sistem Qatar yang terdiri  atas 8 bab, sehingga tim menelaah buku tersebut dan meninjau poin penting untuk disajikan pada handbook. Tim ini mengambil Qatar sebagai sistem yang diusung, meninjau bahwa penerapan debat ilmiah di lingkup UNIDA Gontor  yang umum digunakan adalah sistem  Asean Parlementary maupun Qatar. Syukur alhamdulillah, tim ini berhasil merangkum 8 bab tersebut menjadi handbook pedoman debat yang tersaji secara singkat sejumlah 63 halaman.

Hal lain yang turut mendasari program ini juga berangkat dari permasalahan, dimana tidak sedikit debater melupakan indikator penentu keberhasilan debat seperti matter, manner, dan method. Fenomena yang umum ditemukan seperti; ada debater yang bagus logikanya tetapi secara penyampaian tidak memperhatikan bahasa tubuh yang turut mempengaruhi ataupun metode penyampaian argumen dan jalannya debat yang benar, atau sebaliknya debater yang memiliki keberanian ultra namun logikanya tidak senada. Sehingga, pengusul memberikan solusi melalui pelatihan Sistem Debat Qatar untuk persamaan persepsi bagaimana seharusnya  mahasiswa atau seseorang berdebat dengan baik lagi benar.

Secara umum, sistem ASEAN ataupun Qatar memiliki ragam persamaan hanyasaja Qatar cenderung menonjolkan usluub pada penyampaian argumen, juga sistematika panggung perdebatan yang berbeda. Isu yang dibahas  dalam Sistem Qatar cenderung isu Internasional bukan isu Nasional seperti  halnya Sistem ASEAN. Lebih-lebih, Qatar selaku negara yang memberikan perhatian penuh terhadap debat ilmiah bahasa Arab telah memiliki buku pedoman khusus debat guna melahirkan pemuda umat yang mampu berfikir kritis  lagi memiliki seni berbicara yang luwes.

Dalam tahap pelaksanaan, pengusul memilih TOAFL selaku mitra tak lain juga untuk membantu program kerja pengembangan minat bakat khususnya debat bahasa Arab. Sesi pelatihan diajarkan dari nol, dengan pengenalan definisi inti seputar debat bahasa Arab, tugas setiap pembicara, sistematika debat bahasa Arab, bahkan mengemukakan argumen sesuai metodenya yang terdiri atas  at-Ta’kiid (penekanan), at-Ta’liil, dan at-Tadliil (Bukti/Data) dalam penjabaran lebih inklusif, hakikatnya sistematika argumen berdebat harus tersusun atas Mantuuqu Hujjah (Main Point),At-Ta’lil / as-Syarh (Penjelasan dan analogi), At-Tadliil (Memberikan contoh permasalahan), dan ar-Robt (Keterkaitan dan keterikatan dari setiap unsur yang disampaikan).

Untuk mengukur uji pemahaman, tim memberikan tes quesioner sebagai tolak ukur program yang diterapkan. Selain itu, tes ditujukan guna pnentuan kelayakan  praktek lingkup debat bahasa Arab. Akhir  kata, Khairunnisa Nasution  selaku ketua III  Zona  TOAFL mengungkapkan kami bersyukur dengan adanya program binaan KKN ini, sehingga memberikan insight baru seputar debat bahasa Arab yang dibutuhkan dalam lingkup akademik dalam prodi maupun kegiatan perlombaan dan non akademik lainnya.  Selain itu, memberikan pemahaman persepsi titik salah yang masih umum  terjadi dalam sistematika debat di UNIDA, kami jadi mengetahui istilah perdebatan  dalam bahasa Arab serta pemahaman bahwa dalam berdebat penyampaian argumentasi harus sesuai metode yang paten. Serta dalam berdebat, yang diserang bukan orangnya namun argumentasi yang dibalut dengan bahasa tubuh (manner) untuk menguatkan penyampaian. Tolak ukur keberhasilan melalui kuesioner yang tersebar, syukur mencapai 71,9 %, dengan harapan kedepannya program pengabdian masyarakat yang disampaikan mampu memberikan penerangan dan pemahaman yang lebih masif. [Au : Intan Fasya, PBA 6/Ed: Riza N]

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on google
Share on email
Share on print

Keajaiban dan Kebodohan

Halaqah kitab ayuha-l-walad untuk mengokohkan tekad di ladang jihad. Seandainya

Berita Terbaru