Alumni PBA: Melembaga Adalah Bukti Cintanya

Sebuah catatan kecil seorang  pemuda rantau yang baru lulus dari kampus yang ia cintai, pemuda rantau itu adalah Hakim Syukri Alhamda, S.Pd., alumni 2020 Prodi PBA Fakultas Tarbiyah UNIDA Gontor,  asal Sulawesi, yang menjadikan kampusnya tempat ia menempuh studi selama kurang lebih 3 tahun 7 bulan  menjadi tempat ia berteduh saat ia jenuh, menjadi tempat mengadu saat ia buntu, menjadi dahan yang melindungi dari kerasnya angin, mejadi rembulan yang menyinari masa depanya dan menjadi tanah yang di atasnya iya hidup. Sangat susah melepas ikatan batin ini, ikatan yang begitu erat yang mana harus lepas karena usainya studi di tempat itu, dan tempat itu UNIDA Gontor namanya, Universitas Darussalam tepatnya, banyak pengalaman dan pelajaran yang ia dapat di kampus tersebut mulai dari pelajaran akademik dan non akademi, bermimpi menjadi mahasiswa pendidik adalah impianya, maka ia memilih untuk mengambil jurusan pendidikan yang menjuru pada pendidikan bahasa arab. berbagai karakter dosen yang harus ia hadapi dan berhasil ia lalui, mulai dari dosen yang membuatnya down dan dosen yang membuatnya selalu bangkit dari keterpurukan, namun itu semua dijadikanya sebagai pelajaran untuk menjadi seoarang mahasiswa sejati, yang harusnya tidak selalu penuh dengan pujian dan banggan, banyak pesan dari dosen yang ia pegang dan di jadikan  sebagai pedoman untuk membangun semangat dalam hidupnya. “mahasiswa PBA harus menjadi kaca perbandingan dalam hal positif” adalah salah satu pesan dari dosenya Ust. Alif Cahya Setiayadi, M.A namanya yang sekarang sedang menempuh studi S3 di salah satu Universitas ternama di Leipzig-Jerman.

Kampus itu memang mengharuskan mahasiswanya untuk tinggal di asrama, tapi hal itu tidak membendung pemuda tersebut  untuk tetap aktif  berkreasi, berinofasi, dan berdikari. Ia banyak mengikuti berbagai jenis organisasi, mulai organisasi Prodi (HMP), organisasi mahasiswa daerah (PBA ponorogo), organisasi dewan mahasiswa kampus (DEMA) dan organisasi mahasiswa lainya, banyak perlombaan, seminar, maupun pelatihan yang dibahas dalam organisasi kemahasiswaan tersebut. Ia juga aktif dibeberapa jenis unit kegiatan mahasiswa (UKM)  mulai dari UKM sepak bola (UNIDA FC), berbagai kompetisi sepak bola ia pernah lalui mulai dari kompetisi lokal hingga kompetisi bergengsi lainnya, lalu ia pernah menjadi anggota Tim hadroh UNIDA Gontor, dan berbagai unit kegiatan mahasiswa lainya. Selain beorganisasi dan mengikuti unit kegiatan mahasiswa ia juga ikut berkecimpung di salah satu lembaga di UNIDA Gontor yaitu lembaga Pusat Pendidikan dan Latihan (PUSDIKLAT) yang mempunyai sistem “planning, Organizing, Actuating, Controlling, Evaluating (POACE). Lembaga ini bertugas untuk mengelola berbagai kunjungan yang datang ke UNIDA Gontor, baik jangka pendek maupun jangka panjang, lembaga ini juga banyak mengadakan kerjasama dengan bebarapa sekolahan untuk mengajar extrakulikuler  di sekolahnya khususnya bidang bahasa Arab, dan disinilah peran kami sebagai mahasiswa sebagai pemegang tanggung jawab terbesar bahasa Arab yang harus terjun langsung dalam mengajar bahasa Arab di sekolah mereka. Banyak sekali pengalaman dan pelajaran yang dapat ia ambi dari lembaga tersebut.

Dokumentasi Photo di depan Al-Azhar Islamic Boarding School Yogyakarta

Keputusan bulat yang harus ia ambil untuk meninggalkan UNIDA Gontor setelah lulus adalah keputusan berat baginya, baginya studi dalam janga singkat itu tidak cukup untuk membalas kebaikan dan peran UNIDA terhadapnya. Akan tetapi ada beberapa hal yang membuatnya harus mengambil keputusan tersebut. Dan sekarang pemuda rantau tersebut terjun di sebuah lembaga pendidikan di salah satu sekolah islam yang berada di Yogyakarta, yaitu Sekolah Islam Al-Azhar  Yogyakarta yang mempunyai misi Menjadi sekolah yang islami, bermutu, efektif dan modern dalam membina kader-kader pemimpin bangsa” dan motto “Menciptakan lingkungan belajar yang islami, Mengembangkan model pembelajaran yang efektif dan kondusif, Menerapkan sistem manjemen mutu terpadu .Mengoptimalkan peran serta pembimbing, orang tua, masyarakat dan pemerintah. Di dalamnya terdapat beberapa unit lembaga pendidikan mulai dari Unit SD, Unit SMP, Unit SMA, dan Unit Boarding School. Sedangkan yang di tugaskan kepada pemuda tersebut yaitu di Unit Boarding school dan SD islam Al-Azhar 31. Berbagai jenis kegiatan dan jadwal yang ia jalankan di lembaga tersebut. Selain melembaga ia juga melanjutkan studinya S2 di salah satu Universitas di Yogyakarta yaitu UINSUKA Yogyakarta.

Menurutnya dengan melembaga adalah salah satu bukti cintanya terhadap kampusnya yang ia tinggalkan, dengan tetap memegang teguh dan mengamalkan nilai-nilai yang ia dapatkan. Teringat sebuah pesan dari salah satu gurunya “orang yang paling tinggi orang menuntut ilmu  adalah orang yang tau bahwasanya dia tidak tahu apa apa” Ayahanda KH. Hasan Abdullah Sahal. Hal ini yang membuatnya akan terus berjuang dan belajar mencari apa yang belum ia ketahui sebelumnya. Tiada kata yang terucap selain kata syukur dan banyak terima kasih kepada orang tua yang tulus memberikan dukungan dan do’a sehingga pemuda rantau itu masih bisa berdiri kokoh di antara badai dan bencana yang menerjangnya. Rasa syukur dan terimakasih juga kepada para guru dan dosen yang membimbingnya menjadi mahasiswa yang bertanggung jawab, berkarakter, berintelektual, walau belum seutuhnya dimilikinya.UNTUKMU UNIDA Gontorku. Semoga setiap langkah perjuangannya menjadi jariyah hasanah dan wasilah mencetak generasi rabbani.

(Reporter: Hakim Syukri Alhamda, S.Pd, Edited by: Muhammad Wahyudi)

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on google
Share on email
Share on print

Adab Menjamu Tamu

Menjamu tamu merupakan menjamu (memberi penghormatan) yang layak diterima seorang

Berita Terbaru