Queen of Language : Rebut Juara 2, Bukti PBA Perjuangkan Bahasa

Pada permulaan Maret 2021 (5/03/21), Bagian Bahasa DEMA bekerja sama dengan Markaz Bahasa dan Zona TOAFL serta IELTS kembali menyemarakkan agenda tahunan. adalah  Language Olympiad yang diadakan setiap dua tahun sekali ditujukan untuk memperkuat naluri kebahasaan mahasantri juga menggali bakat-bakat terpendam yang belum diketahui. Language Olympiad merupakan rangkaian kegiatan yang diadakan selama satu pekan penuh dengan ragam perlombaan, intermezo kebahasaan ataupun dan puncak terbesarnya  adalah penutupan sekaligus penyaksian finalis  Queen of Language. Tema besar yang diusung pada tahun ini ialah ‘By The Language We Can Dominate The World’.

Queen of Language Diseleksi Mencakup 4 Kompetensi Kebahasaan

 Secara serentak, kegiatan dibuka bersama  civitas akademika Gontor dan sambutan bapak Dekan Kuliyyatul Banaat al-Ustadz Nurhadi Ihsan MIRKH beriringan dengan olahraga pagi Jum’at awal bulan ketiga ini. Dilanjutkan dengan pembukaan tiap-tiap perlombaan pada sore harinya seperti kasyful mu’jam,  listening, tebak kata, dan perlombaan yang menguji  ketangkasan afektif, kognitif maupun psikomotor. Setiap perlombaan mencakup empat kompetensi kebahasaan yang empat : kemampuan mendengar, menulis, berbicara, dan membaca.

Penyeleksian tahap pertama untuk Queen of Language  diberdayakan usai Friday Night Lecture. Tahap demi tahap berlangsung sengit, sebab  hari selanjutnya diumumkan 60 besar mahasiswi  yang lolos tahap  awal. Babak kedua setiap peserta berkumpul di  Meeting Hall  Fatimah Az-Zahra untuk melalui sesi listening lagu dalam kedua berbahasa Arab dan Inggris, lantas setiap  peserta diberikan kertas untuk melengkapi beberapa teks yang belum terpenuhi, juga mendeskripsikan beberapa kosakata bahasa Inggris pada susunan esai yang rapi  dengan bahasa Arab. Dalam babak ini, PBA mempresentasikan angka perwakilan mahasiswa yang tidak cuma-cuma.

Menyisihkan 35 orang pada tahap ketiga, setiap peserta diasah kemampuan kognitifnya dalam menyimpulkan visualisasi  film berbahasa. Tahap selanjutnya yakni penggalian kemampuan membaca dan menulis dengan membaca teks yang disiapkan panitia sekaligus untuk menulis deskripsi esai berbahasa. Hingga menyisihkan 5 peserta paling baik dari yang terbaik pada babak final. Sebagaimana pembukaan acara, yang secara serentak disaksikan seluruh civitas akademika tak kalah dengan puncak agenda pada Jum’at, 12 Maret 2021.

Syukur Alhamdulillah, PBA berhasil mewakili kembali, setelah beberapa acara sebelumnya juga mengirimkan delegasi terbaiknya. Dengan melewati penyeleksian yang selektif Dina Ayu Wulandari (PBA/6) mampu menempuh tahap terakhir  Queen of Language bersama 4 finalis lainnya pada panggung kehormatan. Di tahap terakhir, keberlangsungan acara menyunting tema ULC (UNIDA Lawyer Club) dimana peserta diarahkan oleh panelis untuk mendiskusikan mosi terkait. Mosi pada malam beropini bilingual di panggung kala itu adalah Penggunaan Vaksin di Indonesia dan Pengaruhnya bagi Masyarakat. Disaksikan juga oleh para juri-juri kompeten yang nantinya menanyai tiap-tiap argumen finalis. Setelah menamatkan sesi beropini, setiap peserta divisualisasikan gambar kartun ironi yang penuh teka-teki, lantas setiap darinya diminta untuk mendeskripsikan gambar terkait entah dalam bahasa Arab maupun Inggris.

Berlanjut pada sesi yang dinanti yaitu penobatan Queen of Language 2021 dengan  pemberian mahkota dan selempang dari QL tahun lalu pada QL tahun ini. Disusul dengan pengumuman setiap pemenang dalam ajang kontes bahasa ini juga rentetan perlombaan didalamnya. Queen of Language 2021 direbut oleh Rahma Andina mahasiswi Program Studi Hubungan Internasional semester 6, sedangkan Dina Ayu selaku perwakilan PBA syukur dan tahmid mampu meraih posisi kedua  dalam ajang bergengsi ini. Dilanjutkan dengan sesi perfotoan dan pemberian penghargaan.

Prodi Bukanlah Batasan untuk Berkarya

Tidak lupa Dina sebagai perwakilan PBA berpesan, prodi bukanlah penghalang untuk berkarya. Walaupun bisa berbahasa Arab jangan lupa untuk menyukai bahasa Inggris karena kita dilahirkan di Gontor bukan hanya karena bahasa Arabnya tetapi juga harus maju dalam bahasa Inggrisnya, terlebih keduanya merupakan bahasa resmi di UNIDA Gontor. Meskipun kurang menguasai semua hal akan menjadi mungkin jika diasah, dilatih, dan dibangun kemauan. Ia juga menambahkan, bahwa masyarakat secara umum lebih dominan pada bahasa Inggris, sehingga menguasai bahasa Inggris menjadi wasilah untuk menyebar luaskan nilai-nilai kebenaran, berkomunikasi secara masif pada masyarakat global. Sejalan dengan merealisasikan tagar World Class University.

Mengutip kesan Dina berikut, hendaknya kita mampu menggali potensi diri, belajar dari teman sekitar bahwa tidak ada mimpi yang terlalu besar atau kecil. Satir yang nyata adalah diri sendiri yang tidak mampu melawan besarnya kenyataan atau belum ingin beranjak dari kenyamanan. Ditutup dengan motto Dina yang dapat menjadi ibrah bagi teman-teman sekalian,  ‘Don’t stop learning, because life doesn’t stop teaching!’.  Wa ma taufiq illa billah.

‘Don’t stop learning, because life doesn’t stop teaching!’. 

Dina Ayu Wulandari

(Intan Fasya-Informan: Dina Ayu, Masnunatus Silfiawati – PBA 6)

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on google
Share on email
Share on print

Contoh Dokumen Esai

Berikut adalah dokumen esai salah satu mahasiswi PBA yang berhasil

Berita Terbaru