Tinggalkan Zona Nyaman! Gapai Cita-Citamu di Masa Depan.

Apa yang terbesit di fikiran kalian disaat mendengar kata zona nyaman? Apalagi kita sebagai anak millenial, sudah tidak asing lagi bukan? Banyak dari kita tenggelam dalam gelombang lautan zona nyaman. Yaitu area lingkungan yang penuh ketenangan dan kebahagiaan bagi orang-orang malas dan senantiasa menutup telinga, mata serta hati untuk lari dari masalah-masalah yang ada di hadapannya. Namun tidak sedikit millenial terlena dalam zona ini, seakan-akan merasa dirinya selalu aman dan selamat dari segala perkara yang ada pada saat itu.

Tinggalkan Zona Nyaman

Kita tidak menyadari bahwa banyak waktu yang terbuang sia-sia hanya untuk bermalas-malasan, rebahan dan melakukan hal-hal yang tidak berguna. Memang zona nyaman itu sangat nikmat, menenangkan jiwa seraya membuat kita tidak ingin menggali potensi diri dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Padahal, setiap anak millenial itu memiliki keterampilan dan kreatifitas yang tinggi dan beragam. Hanya saja kita terlalu nyaman berjalan di tempat dan tidak ingin maju menggali dan mengembangkan skill yang dimiliki. Oleh karenanya, dunia ini terlalu singkat jika hanya untuk diam menikmati kebahagiaan sekarang dan merintih kepedihan di masa depan. sudah saatnya kita berubah dan bermuhasabah diri meninggalkan kegelapan zona nyaman. Karena sejatinya hidup itu pilihan, mau dirubah atau mengubah.

Seperti yang kita ketahui, muhasabah merupakan cara refleksi diri untuk mengevaluasi apa yang sudah dilakukan selama ini. Dalam Islam muhasabah itu dianjurkan bagi setiap insan karena itu sangat dibutuhkan dan memberikan banyak faedah, baik dari sisi  kebaikan di dunia maupun di akhirat. Muhasabah dalam bahasa berasal dari kata hasiba yahsabu hisab, kemudian secara etimologis adalah melakukan perhitungan. Sementara dalam terminologi syar’i makna muhasabah adalah upaya dalam melakukan evaluasi terhadap diri sendiri dalam melihat kebaikan dan keburukan dari aspek keseluruhannya. Beberapa faktor yang mendorong anak muda pasif dan tidak mau berkembang, yaitu:

  1. Takut gagal dan takut di kritik

Hal ini yang sangat menghambat kemajuan pergerakan anak muda. Tidak dapat kita pungkiri banyak anak muda yang putus sekolah, jadi berandalan di jalanan, bahkan jadi pengagguran. Padahal, banyak dari kita yang            memiliki mimpi dan cita-cita tinggi tetapi, tidak bisa mewujudkannya karena sebelumnya sudah takut gagal. Kemudian ada juga orang yang sudah berusaha untuk meninggalkan kebiasaan buruknya dan mulai untuk intropeksi diri tapi ia takut di kritik dan diomongin orang lain. Ini juga termasuk ciri-ciri orang yang takut berbeda dan terlihat asing di mata orang lain bahkan takut dibenci orang lain.

2. Takut untuk memulai hal-hal baru dalam kebaikan.

Kalau yang ini juga tidak beda jauh dengan faktor yang sebelumnya. kebanyakan orang sudah berniat dan punya kemauan untuk memulai hal-hal baru tapi ia takut untuk memulainya karena merasa minder dan pesimis takut tidak dapat melakukannya. Contohnya, terkadang banyak dari kita, disaat  melihat ada perlombaan LKTI atau essay misalnya, pasti ada yang berminat untuk mengikutinya, tapi tidak beraksi. Karena ia sudah pesimis sebelumnya dan kebanyakan berfikir kalau ia tidak biasa melakukanya sebab tidak mempunyai pengalaman sebelumnya.

3. Takut meninggalkan zona nyaman.

Seringkali banyak dari kita terlena dan berlarut-larut membuang waktu kita yang sia-sia hanya untuk menikmati zona nyaman. Kita dikelabui dan tertipu dengan ketenangan yang ada di dalam zona nyaman. Sangat disayangkan sekali bagi anak millenial yang memiliki banyak ide untuk berkarya tapi dikelilingi hitamnya kertas zona nyaman. Biasanya orang yang terlena di dalam lingkaran zona nyaman adalah orang yang tidak mau bergerak dan lari dari masalah- masalah yang ada di depannya.

Solusi yang harus kita lakukan pertama kali adalah mencari komunitas sosial yang baik. karena lingkungan adalah salah satu faktor utama yang sangat berpengaruh terhadap kebiasaan dan kepribadian manusia. Jika kita dikelilingi orang-orang yang ahli ibadah, maka diri kita lambat laut akan mengikutinya, tapi jika kita dikelilingi orang-orang yang suka rebahan, tidak dipungkiri lagi, kita juga akan menjadi orang-orang yang suka rebahan. Karena sejatinya manusia tidak bisa hidup sendirian, maka manusia merupakan makhluk sosial. Seperti pepatah mengatakan:

“اْلِإنْسَانُ مَدَنِيٌّ بِالطَّبْعِ”

Yang artinya: “Manusia itu dilihat dari kebiasaan yang ada di sekitarnya.”

Langkah selanjutnya yakni kita harus menentukan arah dan tujuan hidup kita. Kemudian juga mencari relasi dengan orang-orang yang memiliki satu visi perjuangan yang sama. Langkah terakhir adalah menerima kritikan orang lain guna mengevaluasi kesalahan kita dan mencari mentor supaya ada yang menegur kita disaat kita salah, memperluas wawasan, dan menambah pengalaman yang banyak. Tunggu apalagi, mari berusaha dan berikhtiar berubah ke arah yang lebih baik, masalah kun fayakun urusan Maha Kuasa.

(Khoirunnisa Nasution /PBA 5)

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on google
Share on email
Share on print

Berita Terbaru