Workshop Terjemah, 3 Hari Melatih Mahasiswa Menjadi Penerjemah

Bahasa Arab sebagai salah satu bahasa Internasional kini semakin diminati oleh kalangan pelajar di Indonesia terutama di kalangan para santri. Di pondok pesantren, bahasa Arab selain digunakan pada sebagian mata pelajaran bahasa Arab juga dijadikan bahasa sehari-hari santri.

Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Darussalam Gontor juga menerapkan hal di atas kepada mahasiswa dan mahasiswinya. Hal tersebut dibuktikan dengan 95% dari  mata kuliah yang ada di prodi PBA berbahasa Arab, sakan arabi sebagai asrama tempat tinggal mahasiswa PBA dan wajib berbahasa ketika di lingkungan asrama tersebut, hingga seminar nasional dan internasional berbahasa Arab.

Baru-baru ini program studi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Darussalam Gontor menyelenggarakan Warsyah Tarjamah (Workshop Terjemah). Workshop ini berlangsung selama 3 hari, dimulai dari pembukaan workshop yang dibuka dengan sambutan dari al-Ustadz Muhammad Wahyudi. M.Pd pada hari Sabtu, 5 Maret 2022 dan ditutup dengan pesan dan nasehat dari al-Ustadz Alfy Mamduh Nuruddin, M.Pd pada hari Senin, 7 Maret 2022. Workshop ini dihadiri oleh mahasiswa semester 2-6 dengan jumlah 54 mahasiswa dan 10 dosen.

Pada pembukaan workshop, Ustadz Wahyudi menyampaikan betapa pentingnya ilmu terjemah bagi pelajar Bahasa Arab beliau juga menyampaikan agar seluruh mahasiswa memperhatikan penuh karena materi-materi akan disampaikan oleh dosen yang memang pakar dalam hal terjemah.

Pada sesi pertama, materi disampaikan oleh al Ustadz Khoirul Fata, Lc., M.A. materi yang beliau sampaikan sangat cocok dengan kepakaran beliau. Materi yang beliau sampaikan bertemakan “Pengantar Terjemah Kitab Kuning” di sela-sela presentasi beliau. Beliau mengangkat profil Ulama Penulis Kitab Kuning Nusantara, diantaranya ada Mbah Ihsan Jampes Kediri dengan Sirojuttolibin-nya, Mbah Fadhol Senori dengan Tashilul Masalik-nya dan Mbah Arwani dengan Faidhul Barokat-nya, dimana ketiga Ulama Nusantara ini tidak pernah mengenyam pendidikan di Timur Tengah, namun karyanya mengguncang ulama dunia dan per Kitab-an Arab, karena tingginya kualitas bahasa Arab beliau bertiga selevel Ulama-Ulama Arab pada masa klasik.

Setelah pemaparan materi beliau meminta kepada seluruh mahasiswa yang hadir untuk praktek menerjemahkan kitab kuning, yaitu kitab Ta’limul Muta’allim. Setelah menerjemahkan, untuk menguji seberapa besar kemampuan mahasiswa dalam penererjemahan, beliau memberikan waktu kepada semua kelompok untuk mempresentasikan apa yang sudah mereka terjemahkan.

Pada hari kedua, pada Ahad, 6 Maret 2022 masih dengan seputar terjemah, mahasiswa dihadirkan dosen yang sudah berpengalaman dengan tarjamah al-fauriyah (terjemah langsung), al-Ustadz Azmi Zarkasyi, M.A., yang juga selaku Wakil Dekan II Fakultas Tarbiyah ini. Selama materi beliau memaparkan segala sesuatu tentang penerjemahan fauriyah, dimulai dari pengertian, syarat umum dan khusus hingga tips dan trik menjadi penerjemah fauriyah yang baik dan benar. Ditengah-tengah penyampaian materi, beliau menceritakan pengalaman beliau menjadi penerjemah pada sebuah acara konferensi. Beliau juga menceritakan pengalaman beliau ketika harus menerjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Inggris dikarenakan para hadirin ketika itu merupakan orang Asia dan Eropa. Di akhir materi, beliau meminta para mahasiswa untuk mempraktekan tarjamah fauriyah, dimana para mahasiswa dibagi menjadi beberepa kelompok dan menerjemahkan video dengan teknik tarjamah fauriyah.

Di hari terakhir, materi terjemah diisi langsung secara online oleh Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) yang ketika itu diisi oleh Ibu Anna sebagai sekretaris dari Himpunan Penerjemah Indonesia. Beliau memaparkan betapa besarnya peluang mahasiswa dan mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Arab untuk menjadi penerjemah professional di era digital ini. Bu Anna juga menyampaikan “Penerjemah yang benar-benar menguasai bahasa Arab itu ya itu-itu saja. Lalu siapa penerus mereka? kalianlah penerus-penerus penerjemah bahasa Arab di Indoensia yang hebat-hebat itu.” Sebelum sesi tanya jawab beliau juga menjelaskan tantangan-tantangan penerjemah professional di era digital ini.

Acara workshop ini ditutup dengan do’a yang dipimpin oleh Ustadz Wahyudi dan juga closing statement dari beliau. Semoga dengan adanya workshop terjemah ini, para mahasiswa nantinya bisa menjadi penerjemah yang baik dan benar sesuai dengan capaian lulusan prodi PBA, setidaknya mampu menerjemahkan atau menafsirkan Al Qur’an untuk diri sendiri. BarakaAllahu Fiikum.


Au. Fadhilah Akbar Adyana Tsani (PBA 4)

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on google
Share on email
Share on print

Berita Terbaru